Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

12 Jul 2010

Memahami Arti Senyuman Bayi

Duh... siapa yang tidak gemas melihat si kecil tersenyum, sambil matanya menatap Anda dengan antusias. "Ibu pulang!" begitu mungkin serunya. Rasa lelah setelah sepanjang hari bekerja (plus capek hati) pun sekejap menghilang, digantikan oleh rasa bahagia yang meluap tiada terkira saat melihat senyuman di wajah si kecil.

Namun, bila Anda amati, senyum bayi sebenarnya mengandung makna yang beragam. Senyumnya tidak hanya menandakan ia senang karena bertemu ibu atau ayahnya, tetapi juga lebih dari sekadar makna berkomunikasi. Senyuman bayi juga menunjukkan suatu perkembangan otaknya.

Dua jenis senyuman
Sejak lahir, bayi mampu memperlihatkan seringainya, namun senyuman ini seringkali hanya sekilas dan spontan saja sifatnya. Seringai tersebut dipicu oleh kobaran neuron di dalam batang otak, namun tidak dipengaruhi oleh suasana hati yang baik. Ada kalanya ketika buah hati Anda sedang terlelap, senyum ini akan keluar dengan sendirinya. Beberapa ilmuwan memperkirakan senyum ini disebabkan oleh sel-sel motorik yang berada di dekat otak dimana kondisi REM (rapid eye movement, dimana otak mengolah data dan ingatan sehingga bayi sering bermimpi atau mengigau) berasal.

Kadang-kadang, sudut bibirnya yang melengkung itu menampakkan seulas senyum palsu, tipe senyuman yang akan Anda tampilkan ketika sedang difoto atau ketika menerima pemberian dari orang lain. Senyuman yang tulus karena perasaan senang biasanya datang langsung dari sistem lembik (pusat emosi otak) dan mempengaruhi otot-otot mata yang disebut orbicularis oculi (ketika mata menyipit dan pipi mengembang). Anda tidak dapat memaksa otot-otot ini untuk bekerja, sehingga hanya perasaan yang benar-benar sajalah yang dapat membuat wajah Anda berseri-seri.

Dalam empat hingga 10 minggu kehidupannya, sistem lembik dan jaringan motor bayi telah cukup matang untuk menampilkan senyuman emosionalnya yang pertama kali. Bahkan si kecil bisa memberikan isyarat dari suara dan sentuhannya, lebih dari sekadar ekspresi wajah yang bahagia.

Terjadi bonding
Komunikasi antara orangtua dan anak tidak hanya terjadi dalam satu arah, ketika orangtua merawat bayi, tetapi juga ketika terjadi interaksi dua arah. Itulah yang terjadi ketika si kecil mulai menampilkan senyumnya yang asli. Terjadi suatu perlekatan (bonding) antara Anda dan bayi Anda.

Hanya saja, para ahli psikologi juga memperkirakan, bayi-bayi yang lebih besar pun masih sering menunjukkan senyum palsunya pada orangtua. Orang asing, khususnya, hanya kebagian senyum palsu ini. Jadi bila Anda sedang menggoda bayi teman Anda, dan ia tersenyum, jangan ge-er dulu. Mungkin ia hanya berbasa-basi pada Anda.+

Sumber: kompas.com

13 Mei 2010

Mengantar Anak ke Puncak Kecerdasan

Bagaimana bayangan Anda terhadap anak-anak cerdas dan genius? Apakah Anda mengira anak-anak itu secara genetik sudah berotak encer dan tidak perlu diajari lagi?

Generasi unggul tidak tumbuh dengan sendirinya. Laju tumbuh kembang dan tingkat inteligensia seorang anak sebenarnya tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan saja. Ada tiga faktor yang saling memengaruhi, yaitu genetik atau keturunan, faktor lingkungan, dan faktor gizi.

Faktor genetik, meski tidak bisa kita ubah, hanya berkontribusi sekitar 30 persen saja. Sisanya, faktor gizi dan lingkungan (pengasuhan dan stimulasi), bisa dirangsang sebelum dan sesudah si kecil lahir.

Para ahli menemukan bahwa 20 persen tingkat kecerdasan terbentuk di dalam kandungan. Menurut dr Koesnadi Rusmil SpA (K), sel-sel otak janin terbentuk sejak usia tiga bulan dalam kandungan dan berlanjut sampai anak berusia tiga hingga lima tahun. Jumlah sel otak tumbuh mencapai miliaran, tetapi belum ada hubungan antarsel. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antarsel otak ditentukan stimulasi lingkungan.

Tidak pernah ada kata terlalu awal untuk mulai memberikan stimulasi. "Sejak dalam kandungan, bayi sudah bisa distimulasi dengan cara mengajaknya berkomunikasi, menyentuh perut, mendengarkan musik" kata dr Koesnadi, ahli tumbuh kembang anak dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, dalam acara media workshop yang diadakan oleh Frisian Flag di Jakarta beberapa waktu lalu.

Setelah lahir, stimulasi harus terus dilakukan untuk meningkatkan koneksi otaknya. Stimulasi pada usia dini bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, seperti saat menyusui, menggendong, memandikan, atau memakaikan baju. Stimulasi pada bayi berusia kurang dari tiga bulan dilakukan dengan mengupayakan rasa aman dan nyaman, misalnya dengan memeluk, menatap mata, atau mengajak berbicara.

Para pakar perkembangan anak menegaskan bahwa lingkungan merupakan salah satu elemen penting untuk kecerdasan bayi. Bayi yang dibesarkan di lingkungan yang penuh kasih sayang dan aman akan memiliki emosi yang baik. Sebuah studi menemukan bahwa anak yang mengalami masalah dalam kehidupan awalnya memiliki otak yang ukurannya 30 persen lebih kecil daripada anak yang normal.

"Stimulasi harus diberikan dalam suasana menyenangkan dan penuh kasih sayang. Orangtua juga harus peka terhadap kebutuhan anak," kata psikolog anak, Efriyani Djuwita MSi. Ini berarti orangtua memerhatikan minat, keinginan, atau pendapat anak. "Tiap anak adalah unik dan memiliki perbedaan individual. Orangtua sebaiknya menyesuaikan," tambah psikolog yang akrab disapa Ita ini.

Pemberian stimulasi hendaknya juga memerhatikan waktu. "Ada critical atau sensitive periode di mana rangsangan akan lebih mudah diserap atau diterima anak. Intinya sesuaikan dengan perkembangan yang sudah dikuasai anak, misalnya sebelum mengajarkan menulis, ajari dulu anak cara memegang pensil," imbuhnya. Orangtua juga jangan memaksakan kehendak jika anak sedang mengantuk, bosan, atau ingin melakukan permainan yang lain.

Menurut dr Koesnadi, agar stimulasi yang diberikan lebih optimal, stimulasi harus diberikan bertahap, dalam berbagai variasi dan berulang-ulang. Sel-sel saraf dalam otak merupakan suatu jaringan sel yang berfungsi sebagai "kabel telepon" yang secara teratur akan saling mengirimkan gelombang elektronik berupa sinyal atau "pesan".

Aktivitas listrik yang terjadi secara berulang-ulang atau kontinu pada sel-sel otak si kecil inilah yang akan mampu mengubah struktur fisik otak secara luar biasa sehingga menghasilkan kemampuan-kemampuan baru sebagai proses perkembangan fungsi otak. Semakin sering otak menerima "data", semakin sering pula suatu kemampuan diasah sehingga mencapai tahap "mahir" atau piawai.

Stimulai yang bervariasi dalam suasana yang menyenangkan tidak hanya memacu berbagai aspek kecerdasan anak, tetapi juga membuat anak bahagia. Itu sebabnya, Ita menekankan relasi yang dekat antara orangtua dan anak. Jika orangtua sama-sama sibuk bekerja di luar rumah, perlu diperhatikan waktu yang berkualitas (quality time). Misalnya memanfaatkan waktu makan bersama untuk mengenalkan aneka ragam makanan, membacakan buku cerita sambil menemani anak minum susu, atau berolahraga dan mengenal alam pada akhir pekan.

"Orangtua harus menciptakan rasa aman dan mendorong keberanian anak berkreasi. Berikan pujian atas keberhasilan anak berperilaku baik dan berikan koreksi bila anak membuat kesalahan," urai Ita.

Kebutuhan nutrisi

Selain stimulasi dini, agar tumbuh kembang optimal, kebutuhan nutrisi anak juga harus dipenuhi sejak dalam kandungan. Kebutuhan nutrisi termasuk pemberian air susu ibu (ASI) dan makanan pendamping ASI yang sehat dan bergizi. Untuk membantu perkembangan otak bayi, anak butuh nutrisi yang cukup berupa protein, energi, serta asam lemak esensial seperti AA, DHA, asam amino esensial, serta mineral.

Di otak, DHA adalah membran yang paling penting berkaitan dengan fungsi sambungan antar sel-sel saraf. Sementara asam amino esensial dibutuhkan karena tubuh bayi tidak dapat memproduksinya. Asam amino esensial, seperti tirosin dan triptofan, bersama-sama dengan mineral dan kolin akan membuat kinerja otak lebih baik lagi untuk tumbuh kembang optimal.

Selain kualitas, kuantitas makanan bayi juga perlu diperhatikan. Hendaknya nutrisi makro dan mikro diberikan dalam jumlah yang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG). Hal ini bisa dipenuhi dari tiga kali makan utama, dua kali makanan selingan (snack), dan dua gelas susu setiap hari.

Sumber: kompas.com

24 Nov 2008

Baby Blues Tak Boleh Dipandang Enteng


Brooke Shields bukanlah satu-satunya wanita yang pernah mengalami gangguan emosi setelah melahirkan. Beberapa selebriti internasional seperti Sadie Frost, Elle McPherson, dan Kate Winslet mengaku mengalaminya. Begitu juga dengan presenter cantik Sophie Navita. Berabad sebelumnya, kondisi serupa juga dialami para ibu pada masa kehidupan Hippocrates, di abad ke 5 SM. Catatan medis yang ditulis bapak ilmu kedokteran ini menyebutkan secara detil tentang depresi ringan yang dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Depresi ringan inilah yang belakangan lebih popular dengan istilah baby blues syndrome.

Sayangnya walau sudah dicatat dalam jurnal medis Hippocrates, sindroma ini tak terlalu dianggap penting. Kalaupun banyak yang mengalaminya, sering hanya dianggap sebagai efek samping dari keletihan setelah melahirkan. Padahal data penelitian di berbagai belahan dunia secara tegas menunjukkan 2/3 atau sekitar 50-75% wanita mengalami baby blues syndrome. Besarnya angka ini menurut Dr. dr. Irawati Ismail Sp.Kj, MEpid, dari Bagian Psikiatri FKUI, menunjukkan bahwa baby blues syndrome adalah gangguan yang sering terjadi. “Sayangnya jarang dirujuk ke ahli kejiwaan,” katanya menekankan.

Khusus di Indonesia kurangnya perhatian terhadap masalah ini semakin diperparah oleh anggapan awam yang keliru. Tidak sedikit orang yang menganggap baby blues syndrom hanya dialami orang wanita-wanita di luar Indonesia. “Nenekmu punya anak banyak tapi tidak pernah mengalaminya. Mungkin kamu hanya manja saja!” Begitulah komentar yang sering kita dengar. Kemudahan menyewa jasa pengasuh anak serta masih kentalnya tradisi membantu kerabat yang baru melahirkan, semakin memperkuat keyakinan kalau wanita Indonesia ‘kebal’ terhadap baby blues syndrome. Padahal hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta oleh dr. Irawati Sp.Kj menunjukkan 25% dari 580 ibu yang menjadi respodennya mengalami sindroma ini.

Hanya 2 minggu
Baby blues syndrom, adalah gangguan emosi ringan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu setelah ibu melahirkan. Ada pula yang menyebutnya dengan istilah lain seperti maternity blues atau post partum blues. Sesuai dengan istilahnya – blues – yang berarti keadaan tertekan, sindroma ini ditandai dengan gejala-gejala gangguan emosi seperti sering menangis atau mudah bersikap berang. Munculnya berbagai gejala ini menurut dr. Irawati Sp.Kj dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah ketidaksiapan ibu menghadapi kelahiran bayinya. Ada ibu yang tidak menyadari kalau kelahiran seorang bayi selalu disertai dengan peningkatan tanggung jawab. “Kesulitan menyusui misalnya, bisa membuat ibu jadi tertekan,” kata dr. Irawati Sp.Kj lagi.
Ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan di bawah normal cenderung 3.64 kali berpeluang lebih besar mengalami baby blues dibandingkan dengan ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan normal.

Faktor pencetus lain yang tidak kalah serius adalah sikap ibu dalam memandang dan menghadapi persalinan. Seringkali seorang ibu berharap bayi yang baru lahir akan tidur nyenyak di malam hari. Siapa sangka sang bayi justru ‘menjadi teroris di tengah malam’ dengan tangisannya yang tak kunjung usai.Baby blues juga sangat mungkin terjadi oleh para ibu yang pernah mengalami trauma melahirkan atau mengalami kejadian yang sangat menyedihkan selama mengandung. Brooke Shields, misalnya, kehilangan ayahnya saat sedang mengandung. Ibu yang mengalami depresi saat mengandung, atau pernah mengalami depresi sebelumnya lebih harus mendapatkan perhatian khusus karena memiliki peluang besar untuk mengalami baby blues.

Selain dipicu oleh faktor-faktor yang sifatnya kejiwaan, perubahan hormon di turut mempengaruhi kestabilan emosi. Selama hamil hormon (estrogen dan progresteron) akan mengalami peningkatan. Hormon-hormon ini akan menurun tajam dalam tempo 72 jam setelah melahirkan. “Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau kondisi hormon yang sudah stabil selama 9 bulan mendadak berubah drastis,” kata dr. Arju Anita SpOG dari RSIA Hermina. Walau terdengar begitu mencemaskan, para orang tua baru sebenarnya tak perlu cemas dalam mengalami baby blues syndrome. Singkatnya kurun waktu dan sifatnya yang temporer membuat baby blues akan akan ‘sembuh’ dengan sendirinya tanpa perlu ditangani dengan terapi hormonal. Pertolongan yang paling tepat menurut dr. Arju Anita adalah terapi psikologis. Dukungan moral dari lingkungan sekitarnya juga berperan penting di dalam membantu ibu dalam mengatasi sindroma ini.

Depresi pasca persalinan
Kewaspadaan harus lebih ditingkatkan ketika gangguan emosi yang dialami tak kunjung hilang setelah 2 minggu. Kemungkinan terbesar, ibu mengalami depresi pasca persalinan atau post partum depression (PPD). Layaknya depresi-depresi lainnya, depresi paska persalinan harus ditangani secara serius secara psikis oleh psikiater atau psikolog. “Membiarkan ibu terbenam dalam depresi akan mengakibatkan dampak negatif. Tidak hanya untuk si ibu tetapi juga si bayi, karena PPD bisa terus berlanjut selama 2 tahun,” kata dr. Irawati.

Berbeda dengan ketika mengalami baby blues syndrome, para penderita PPD biasanya dilanda rasa putus asa yang sangat berat. Seringkali mereka merasa ingin bunuh diri atau mencelakai bayinya. Satu kejadian paling menghebohkan yang sempat mengguncang masyarakat di Amerika Serikat adalah kasus pembunuhan 2 anak oleh ibu kandungnya, Tonya Vasilev. Tonya membunuh anaknya karena menderita depresi berat. Sebelum kejadian ini ia memang sudah mengalami beberapa kali depresi yang menjadi semakin parah setiap kali habis bersalin.

Dalam kadar yang lebih ‘ringan’ sekalipun PPD akan menimbulkan dampak buruk kepada seluruh anggota keluarga. Bayangkan bagaimana jika istri menarik diri dan menolak berinteraksi dengan suaminya. Depresi bisa membuat ibu menolak menyusui dan mengurus bayinya. Kesehatan fisik dan psikis si bayi pastilah akan terganggu. Walau telah mendapatkan pertolongan yang menyeluruh dari ahli medis, penanganan post partum depression tidak akan sempurna tanpa dukungan dari keluarga. Para suami bisa memulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya menanyakan kabar istrinya, atau mencarikan orang yang dapat membantunya mengurus rumah dan bayi. Dukungan sosial yang positif terbukti dapat membantu ibu melepaskan diri dari jerat depresi pasca persalinan. Untuk urusan yang satu ini barangkali kita perlu belajar pada orang Jawa yang mengenal tradisi ‘memanjakan’ ibu yang baru melahirkan selama 40 hari setelah persalinan.

Sumber: id.shvoong.com

21 Nov 2008

Mengenal Baby Blues


Hampir sebagian besar ibu yang baru melahirkan mengalami baby blues. Sebuah kondisi depresi pascapersalinan, yang jika tidak ditangani, akan berdampak pada perkembangan anak. Lalu sebenarnya baby blues? Apa tanda-tanda yang mesti dicermati, dan bagaimana mengatasinya?

Baby blues syndrome atau postpartum syndrome adalah kondisi yang dialami oleh hampir 50% perempuan yang baru melahirkan. Kondisi ini dapat terjadi sejak hari pertama setelah persalinan dan cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima setelah persalinan. Baby blues cenderung menyerang dalam rentang waktu 14 hari terhitung setelah persalinan.

Penyebab

Para pakar kesehatan sepakat bahwa ada empat faktor penyebab baby blues :

1. Hormonal. Usai bersalin, kadar hormon kortisol (hormon pemicu stres) pada tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang yang sedang mengalami depresi. Di saat yang sama hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI sedang meningkat. Sementara pada saat yang sama kadar progesteron sangat rendah. Pertemuan kedua hormon ini akan menimbulkan keletihan fisik pada ibu dan memicu depresi.

2. Psikologis. Berkurangnya perhatian keluarga, terutama suami karena semua perhatian tertuju pada anak yang baru lahir. Padahal usai persalinan si ibu yang merasa lelah dan sakit pascapersalinan membuat ibu membutuhkan perhatian. Kecewa terhadap penampilan fisik si kecil karena tidak sesuai dengan yang diinginkan juga bisa memicu baby blues.

3. Fisik. Kelahan fisik karena aktivitas mengasuh bayi, menyusui, memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari bahkan tak jarang di malam buta sangatlah menguras tenaga. Apalagi jika tidak ada bantuan dari suami atau anggota keluarga yang lain.

4. Sosial. Si ibu merasa sulit menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai ibu. Apalagi kini gaya hidupnya akan berubah dratis. Anda merasa dijauhi oleh lingkungan dan merasa akan terasa terikat terus pada si kecil.

Gejala

Menangis tanpa sebab, berkeringat dingin, sesak napas, sulit tidur, gelisah, tegang, bingung, merasa sendiri, sedih, tampak murung, sakit, marah, merasa bersalah dan tak berharga, punya pikiran negatif pada suami, dan kehilangan nafsu makan adalah gejala umum yang biasanya dialami ibu yang mengalami baby blues.

Dampaknya pada bayi

Stres serta sikap tidak tulus ibu yang terus-menerus diterima oleh bayi kelak bisa membuatnya tumbuh menjadi anak yang mudah menangis, cenderung rewel, pencemas sekaligus pemurung. Dampak lain yang tak kalah merugikan adalah; si anak cenderung mudah sakit.

Cara mengatasi
1. Mintalah bantuan orang lain, misalnya kerabat atau teman untuk membantu Anda mengurus si kecil.
2. Ibu yang baru saja melahirkan sangat butuh istirahat dan tidur yang cukup. Lebih hanyak istirahat di minggu-minggu dan bulan-bulan pertama setelah melahirkan, bisa mencegah depresi dan memulihkan tenaga yang seolah terkuras habis.
3. Hindari makanan manis serta makanan dan minuman yang mengandung kafein. Karena kedua makanan ini berpotensi memperburuk depresi.
4.Konsumsilah makanan yang bernutrisi agar kondisi tubuh cepat pulih, sehat dan segar.
5. Cobalah berbagi rasa dengan suami atau orang terdekat lainnya. Dukungan dari mereka bisa membantu Anda mengurangi depresi.

Sumber: conectique.com

31 Okt 2008

Cup cup, Jangan Menangis Sayang


Menangis adalah satu-satunya cara bayi berkomunikasi. Lewat lengkingan tangisnya bayi ingin memberitahu kalau ia butuh sesuatu dan harus segera di respon. Selain karena rewel, bayi juga menangis karena ada hal "darurat" lainnya.

Ia lapar
Tangisan bayi karena lapar biasanya lebih keras dibanding tangisan karena sebab lain. Saat diangkat bayi berusaha mencari payudara ibunya. Biasanya setelah perutnya kenyang bayi akan tenang kembali. Karena itu saat bayi menangis, ibu disarankan untuk mengecek apakah ia lapar. Umumnya perut bayi akan kosong setelah dua jam.

Popoknya basah
Tak sedikit bayi yang tak nyaman jika popoknya basah, karena itu mereka menangis untuk memberitahu ayah ibunya agar popoknya segera diganti. Namun ada juga bayi yang anteng-anteng saja meski popoknya basah.

Ia kedinginan atau kepanasan
Bayi baru lahir sangat butuh kehangatan. Itu sebabnya jika udara terlalu dingin atau terlalu panas, ia kan mengekpresikan rasa tak nyamannya lewat tangisan. Kenakan bayi pakaian yang membuatnya hangat, misalnya sarung kaki dan tangan.

Ingin dipeluk
Bayi sangat senang ditimang karena ia suka melihat wajah orangtuanya, mendengar suaranya, dan merasakan detak jantung ibunya. Sejak lahir bayi bahkan sudah bisa mengenali suara ibunya dan membedakan orangtuanya lewat bau tubuh. Bila bayi masih menangis juga meski telah disusui dan diganti popoknya, peluk dan timang-timang si kecil agar ia merasa nyaman.

Lelah dan tak nyaman
Seringkali bayi menangis karena ia terlalu banyak menerima stimulasi, misalnya ketika akhir pekan lalu ia "dioper" dari satu gendongan ke gendongan lain, rumah terlalu berisik, lampu yang terlalu terang, dan sebagainya. Menangis adalah cara bayi untuk mengatakan ia lelah. Gendong bayi dan bawalah ia ke tempat yang tenang.

Rewel
Tak jarang bayi menangis tanpa sebab. Bisa karena ia merasa bosan atau memang hanya rewel saja. Kalau sudah begini, Anda perlu bersabar dan sedikit berkorban untuk menggendongnya hingga ia mengantuk. Tapi mungkin juga bayi terserang kolik. Cek apakah perut bayi kembung dan ia sudah bersendawa setelah disusui. Bila bayi terserang kolik, usap-usap punggung bayi atau peluklah sampai ia merasa nyaman dan tangisnya reda.

Sumber: kompas.com

Balita Sehat Tertawa 500 Kali Sehari


Tahukah Anda bahwa anak berusia empat tahun rata-rata tertawa 500 kali sehari? Jika kurang dari itu, sebaiknya Anda mencari tahu penyebab kenapa si anak bermuka muram. Karena itu menunjukkan tanda-tanda tidak sehat, mungkin badannya atau perkembangan psikologinya.

Sementara, bagi Anda yang berusia dewasa dan tertawa kurang dari 17 kali dalam sehari, sudah sepatutnya khawatir. Pasti ada yang tidak semestinya terjadi.

Tertawa tidak semata-mata menyenangkan dan menggembirakan hati, namun telah menjadi hal yang serius. Seperti ditulis oleh Marion Pietz dalam buku Born to Cathart, manusia sekarang hidup dikelilingi bermacam persoalan, dan tertawa seperti oasis di padang pasir. Menyesap oasis menjadi obat untuk segala macam penyakit.

Sebagai seorang kanselor perkawinan dan keluarga, Pietz terkenal melalui buku-bukunya sebagai humoris. Pada sesi terapi selalu ada interval berlatih apa yang dinamakannya sebagai tertawa dengan sepenuh hati -- paling tidak 15 detik dalam satu hari, dan memantau hasilnya.

Tertawa bukanlah perkara sulit kecuali kalau kita memang doyan mempersulit diri. Dalam jangka panjang kebiasaan banyak tertawa membawa hasil dalam penampakan raut muka.

Jika sejak kecil terbiasa tertawa lepas, maka tidak sulit untuk meneruskan kebiasaan sehat itu hingga usia dewasa.

Tidak terlalu sulit membuat anak tertawa. Suasana yang menyenangkan, komunikasi yang baik, atau sekadar memainkan mimik muka telah bisa membuat seorang anak kecil terbahak-bahak.

Sudah menjadi kewajiban orang dewasa mengkondisikan anak dalam lingkungan yang sehat. Lagipula, bukankah komunikasi pertama bayi usia dua hingga empat minggu dengan lingkungan barunya adalah dengan tertawa?

Menurut buku Marion Pietz, seorang bayi lahir 'dibekali' semacam tape recorder yang merekam pesan dua ekspresi psikologi yaitu tertawa dan menangis. Ketika masih kecil, rekaman itu akan sangat mudah diputar untuk kejadian yang tidak penting, bagi orang dewasa. Jatuh dari ayunan, mendapat hadiah, atau merasa ditinggalkan sendirian di ruangan, dengan mudah tape rekaman itu akan memutar salah satu pesan bawaan itu.

Pada usia dewasa, menangis berubah menjadi pembersih rasa sakit karena emosi. Ketika menghadapi klien yang menangis pada sesi terapi, Dr Pietz tidak pernah menawarkan tisu karena yang bersangkutan mengambil tisu, mengucapkan terima kasih dan tangisan terhenti begitu saja.

Setelah kesakitan emosi dihapus dengan menangis sepenuh hati, tiba waktunya untuk menyemai kembali benih jiwa sehat dengan tertawa lepas. Tidak mesti selalu berlatih tertawa di ruang terapis karena sebenarnya bisa dilakukan sendiri. Paling tidak mulailah dengan banyak tersenyum.

Sumber: inilah.com

13 Mei 2008

Lima Langkah Untuk Meredakan Kemarahan Pada Anak

Kemarahan adalah hal yang normal. Tetapi, cara Anda mengatasi kemarahan pada anak Anda adalah hal yang sangat penting. Berikut adalah beberapa saran.

Langkah Pertama: Sadari bahwa Anda merasa marah.

Bila Anda dapat mengenali tanda-tanda awal kemarahan, Anda akan memiliki waktu untuk berhadapan dengan perasaan Anda, sebelum hal itu menjadi sesuatu yang menghancurkan. Tanda peringatan tersebut termasuk perasaan panas, dingin, kaku, otot-otot menegang, perut yang bergolak atau keinginan untuk menangis. Apabila Anda memperhatikan peringatan awal ini, Anda dapat menyadari bahwa kemarahan dapat segera datang.

Langkah Kedua: Alihkan diri Anda dari kemarahan.

Kemarahan selalu mengeluarkan energi fisik. Suatu pengalihan membantu untuk mengurangi ketegangan. Berikut ini adalah contoh pengalihan yang dapat Anda lakukan: berjalan-jalan, berlari, memukul bantal, mandi, bernyanyi, mengambil napas panjang sebanyak 10 hitungan, menghitung angka keras-keras, memainkan alat musik, memperkatakan ayat-ayat Alkitab, menghubungai seseorang, menonton program TV yang lucu.

Langkah Ketiga: Kenali hal yang menyebabkan Anda marah.

Bertanyalah pada diri sendiri mengenai kondisi fisik Anda: Apakah saya lelah? Apakah saya butuh berolah raga? Apakah saya makan terlalu banyak atau makan makanan yang salah? Kemudian, tanyakan pertanyaan tentang kondisi psikologis Anda: Apakah saya sedang berpikir buruk tentang sesuatu? Apakah saya sedang kuatir? Apakah anak saya meniru kebiasaan buruk saya? Terakhir, amati keadaan spiritual Anda: Apakah saya sedang tidak mempercayai Tuhan? Apakah ada dosa yang belum diakui? Apakah saya perlu mengampuni seseorang?

Langkah Keempat: Analisa pemikiran Anda mengenai hal-hal yang tidak benar.

Kita sering menjadi marah karena kita menganggap bahwa suatu hal adalah benar, padahal tidak. Anggapan seperti ini memutarbalkkan pemikiran kita. Daripada melakukan hal itu, lebih baik kita mendasari tindakan dan perilaku pada nilai-nilai kebenaran. Menghentikan evaluasi pemikiran kita dengan menganalisa Alkitab dan dengan berbagai ide dengan orang lain akan membantu mengidentifikasi anggapan yang salah. Sekali kita melakukan hal ini, kemarahan tidak lagi memiliki bahan bakar. Berikut ini adalah beberapa pemikiran yang salah:

“Menjadi aman secara finansial akan membuang segala masalah saya.”

“Apabila suami mau bekerja sama dengan saya, saya akan berbahagia dan puas.”

“Karena saya melakukan terlalu banyak kesalahan, anak-anak saya tidak dapat bertumbuh menjadi orang dewasa yang sehat secara emosional.”

“Apabila saya tidak mempunyai anak, saya dapat lebih bahagia dan memiliki lebih sedikit masalah.”

Langkah Kelima: Keluarkan kemarahan secara tepat.

Hal ini berarti menggunakan “pesan saya” daripada “pesan Anda”. “Pesan Anda” mengekspresikan kesalahan seperti “Kamu membuat saya marah.” Hasil dari “pesan Anda”, orang lain biasanya merespon secara defensif dan tidak terbuka untuk mendengarkan perasaan atau pemikiran kita mengenai penyelesaian masalah.

Di lain pihak, “pesan saya” mengekspresikan perasaan kita tanpa memberi tahu orang lain apa yang perlu dilakukan (kecuali dia bertanya). “Pesan saya” mengekspresikan kebutuhan kita dan mungkin lebih kondusif bagi seseorang yang benar-benar mendengarkan. Contohnya, “Saya merasa marah bila kebutuhan saya diabaikan.”

Selain mengawasi pemakaian kata-kata, kita perlu mengamati motivasi kita. Kita tidak perlu menggunakan “pesan saya” untuk berusaha mengubah orang lain. Tetapi, kita perlu secara jujur berbagi perasaan apabila mempercayai Tuhan untuk mengontrol orang-orang dan keadaan.

“Pesan saya” adalah lebih efektif untuk digunakan kepada orang dewasa lainnya, bukan bagi seorang anak.Hal ini akan membantu kita menghindari salah penempatan dalam mengarahkan kemarahan kita dari seorang dewasa kepada seorang anak. Bagi seorang anak, perlu menggunakan ‘konsekuensi tertentu bagi ketidaktaatan mereka’ untuk melatih mereka. Kita juga dapat menyatakan kemarahan kita dengan menghubungi seorang teman, konselor profesional, atau pendeta. Kita dapat berbagi perasaan dalam suatu kelompok pendukung yang aman atau menuliskannya di dalam sebuah jurnal.

Sumber: Jawaban.com

Tahukah Anda? Apa yang dialami bayi saat diaborsi?

Situasi bayi saat aborsi tidak disadari oleh para calon ibu. Karena mereka tidak merasa sakit (menggunakan obat bius). Prosesnya pun berlangsung cepat. Sehingga mereka dapat segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan. Namun tahukah Anda secara pasti apa yang dialami bayi dalam kandungan saat terjadi proses aborsi?Aborsi merupakan proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan sangat tidak manusiawi bagi bayi. Berikut ini adalah gambaran mengenai apa yang terjadi dalam proses aborsi:
  • Saat kehamilan berada di bawah 1 bulan
    Saat kehamilan masih berada di bawah 1 bulan, usia janin masih sangat kecil. Aborsi dilakukan dengan menggunakan alat penghisap. Janin yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan.

  • Saat kehamilan berada di antara 1 hingga 3 bulan
    Saat kehamilan berusia 1 hingga 3 bulan, bagian-bagian tubuh janin sudah mulai terbentuk. Jika aborsi dilakukan pada usia ini, bagian tubuh janin yang teraih ditusuk, dipotong-potong, dan dihancurkan dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi. Tulang-tulangnya diremukkan dan seluruh bagian tubuhnya dihancurkan menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan.

  • Saat kehamilan berada di antara 3 hingga 6 bulan
    Ketika berada pada usia 3 hingga 6 bulan, janin sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah dapat menggenggam, dan demikian dengan tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan membunuh janin terlebih dahulu sebelum dikeluarkan. Pertama-tama, janin diberi suntikan yang langsung dimasukkan ke dalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya, dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras.

  • Saat kehamilan berada di antara 6 sampai 9 bulan
    Janin sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah terlihat dengan jelas, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya. Jari-jarinya juga sudah terbentuk lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi dengan baik. Aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian membunuhnya (langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan ke dalam air, atau dipukul kepalanya hingga pecah).
Sumber: info-sehat.com