BOCORNYA reaktor nuklir Fukushima Daiichi di Jepang sejauh ini menyebabkan sekitar sepersepuluh dari jumlah radiasi pada bencana Chernobyl, menurut data, Selasa (12/4). Para ahli pun memperingatkan adanya risiko kesehatan jangka panjang yang serius.
Badan Keselamatan Nuklir dan Industri Nasional (NISA) Jepang dan Komisi Keselamatan Nuklir Jepang memperkirakan tingkat radiasi kumulatif antara 370 ribu dan 630 ribu terabecquerels. Itu hampir mencapai 10 persen dari total radiasi 5,2 juta terabecquerels yang dihasilkan Chernobyl.
"Jumlah tersebut tergolong sangat serius. Hampir sepersepuluh dari radiasi Chernobyl dalam sebulan," kata Lam Ching-wan, ahli kimia patologi di University of Hong Kong dan anggota American Board of Toxicology. "Ini berarti bisa merusak tanah, ekosistem, air, makanan, dan orang-orang. Orang-orang yang terpapar radiasi ini tidak dapat melarikan diri hanya menutup jendela."
"Ancaman radiasi itu nyata sehingga diperlukan adanya surveilans radiasi nasional untuk mengetahui dampaknya pada kesehatan. Termasuk, pengadaan skrining rutin untuk kanker," kata Lam.
Para ahli mengkhawatirkan tiga tentang tiga substansi radioaktif yakni yodium-131, caesium-134, dan cesium-137. Semua itu dapat menyebabkan berbagai jenis kanker di kemudian hari.
Dari studi yang dilakukan terhadap korban kecelakaan instalasi nuklir di masa lalu serta korban bom atom di Jepang selama Perang Dunia II, kaitan antara paparan yodium radioaktif dan kanker tiroidlah yang paling meyakinkan.
Meskipun radioaktivitas yodium-131 sepenuhnya hancur dalam 80 hari, tapi zat ini dapat menemukan jalan cepat ke manusia melalui udara, susu, dan sayuran berdaun. Yodium-131 bisa bertahan di kelenjar tiroid. Di sana, ia dapat menyebabkan kerusakan DNA dan meningkatkan risiko kanker, terutama pada anak-anak.
Di antara korban kecelakaan Chernobyl, setidaknya 1.800 orang mengidap kanker tiroid, sepetri dikutip dari Yahoo Health, Selasa (12/4).
Di bawah ini adalah 10 tren kehidupan urban yang akan membentuk kota di masa depan yang lebih ramah lingkungan.
Lebah di Halaman Rumah Populasi lebah menyusut drastis. Selain karena mati banyak pula mereka yang menghilang sebagai bagian dari fenomena aneh yang disebut Colony Collapse Disorder. Namun berita buruknya adalah dengan berkurangnya lebah, maka banyak tanaman pokok kita yang terancam hilang karena proses pembuahan yang biasa dilakukan serangga ini menurun tajam.
Halaman belakang rumah bisa menjadi solusi. Caranya adalah dengan menyediakan sedikit lahan untuk sarang lebah. Selain turut melestarikan lingkungan, kita pun bisa memperoleh manfaat sampingan berupa madu. Selebriti yang sudah melakukan hal ini diantaranya Scarlett Johansson dan Samuel L. Jackson.
Memanfaatkan Lahan Sempit Lahan di perkotaan semakin sempit sehingga semakin sulit pula untuk sekadar menanam tanaman penghijau. Kendati demikian, kini banyak pengembang yang mulai membangun dengan konsep bangunan hijau, terutama untuk gedung bertingkat. Selain itu, Anda pun dapat menyiasati lahan yang sempit dengan memanfaatkan balkon atau dinding. Biarkan tanaman dalam pot Anda tumbuh menyusuri jendela dan pegangan tangga. Hijaukan kota Anda!
Taman di Atap Gedung Membuat atap gedung bertingkat yang hijau dengan tanaman merupakan tantangan tersendiri. Secara arsitektural, gedung ini memerlukan rancangan khusus yang dapat mengakomodasi tanah beserta tanaman hijau yang beratnya bisa berton-ton. Bukan hal yang mudah memang. Namun keindahan alami yang akan diperoleh sangat sepadan dengan usaha yang dilakukan.
Gerilyawan Revolusi Hijau Kesal melihat lahan kota telantar yang tidak terawat dan merusak pemandangan? Anda bisa membentuk gerakan revolusi hijau yang bergerilya menghijaukan lahan tersebut. Gerakan ini umumnya bersenjatakan garpu taman dan bibit tanaman bunga untuk memperindah sudut-sudut kota. Anggotanya beroperasi secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, mempercantik lahan dengan membuat taman dan menyelesaikannya sebelum matahari terbit.
Mobil Listrik dan Komunitas Nebeng Mobil listrik sudah mulai dipasarkan sejak beberapa tahun lalu. Namun, baru sekitar dua tahun terakhir mendapat sambutan positif di pasar otomotif seiring kemampuan jarak tempuhnya yang semakin mendekati mobil berbahan bakar minyak dan gas. Meski begitu, masih ada perdebatan mengenai seberapa ramah lingkungan mobil listrik sebenarnya. Oleh sebab itu, penggunaan transportasi massal serta alternatif lain untuk memaksimalkan daya angkut kendaraan pribadi, seperti yang dilakukan komunitas nebeng.com, merupakan tindakan bijaksana.
Lebih Sehat dengan Berjalan Kaki Mimpi buruk kota super modern di masa depan adalah satu-satunya cara kita untuk berkeringat adalah hanya dengan menekan tombol. Kita benar-benar akan dimanjakan oleh teknologi. Akan tetapi, ada perubahan menarik yang terjadi belakangan ini. Pemerintah kota di Amerika Serikat mulai merancang kota yang mendorong penduduknya untuk lebih sering berjalan kaki. Taman dan jalan kecil diperbanyak. Akses ke berbagai tempat pun dirancang agar dapat dijangkau melalui trotoar. Jadi, selamat datang komuter sehat!
Memberi Berarti Menerima Sering bermasalah dengan freezer di kulkas Anda yang penuh dengan buah-buahan? Cobalah berbagi kepada sesama melalui sebuah jejaring sosial di lingkungan Anda yang bisa mengumpulkan dan mendistribusikan kelebihan bahan makanan seperti buah-buahan. Di San Fransisco ada contoh jejaring sosial seperti ini yang bernama Neighborhood Fruit. Ketika kulkas seseorang penuh, ia dapat memberi sebagian isinya kepada yang membutuhkan. Semua anggota jejaring sosial tersebut pun merasakan manfaatnya dan merasa saling terbantu. Berminat untuk membentuk jejaring serupa di sini?
Memberikan yang Tak Terpakai Hari-hari membuang bahan makanan yang tak terpakai sudah berlalu. Sementara sepertiga belanjaan rumah tangga berakhir di tempat sampah, Beberapa restoran mulai memperlakukan bahan makanan yang tak terpakai dengan lebih baik. Mereka menawarkannya kepada lembaga amal dan LSM setempat atau memberikannya langsung kepada para tuna wisma.
Berbelanjalah Secara Online Tren belanja online terus menunjukkan peningkatan. Alasannya sederhana, belanja online merupakan cara yang mudah untuk mendapatkan barang-barang terbaik dari mana pun di seluruh dunia. Cara ini jelas lebih ramah lingkungan karena, Anda tidak perlu menghabiskan bahan bakar kendaraan untuk pergi ke pusat perbelanjaan.
Kembalinya Era Barter Barter belum mati! Cara untuk memenuhi kebutuhan pada masa lalu ini hidup kembali berkat internet. Kemampuan internet untuk menghubungkan banyak orang memungkinkan kita untuk saling bertukar buku, DVD, pakaian, gadget, bibit tanaman, dan lain sebagainya. Apabila ini dilakukan oleh penduduk dalam suatu kota, tentu dapat meningkatkan ikatan sosial diantara mereka
Perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia sejak beberapa tahun terakhir membawa dampak terhadap kesehatan. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 1996 telah memperkirakan perubahan iklim akan menyebabkan peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga 70 kali lipat pada tahun 2070.
Tak hanya itu, Prof. dr. Umar-Fahmi Achmadi MPh, Ph.D, Guru Besar Universitas Indonesia yang juga mantan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI menjelaskan, “Sejak beberapa waktu lalu, perubahan iklim juga berkontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit infeksi baru seperti Avian Influenza, SARS, Leptospirosis, serta kembali maraknya kasus-kasus diare dan penyakit infeksi perut.”
Diare sendiri sudah tercatat menjadi pembunuh tertinggi kedua balita di Indonesia (data: Departemen Kesehatan), bahkan sebelum timbulnya awareness (kesadaran) mengenai dampak
perubahan iklim kepada kesehatan. Dengan perubahan iklim yang berhujung pada kerusakan dan pencemaran lingkungan (contoh: banjir), maka resiko timbulnya penyakit seperti diare, DBD, serta malaria diperkirakan meningkat.
Untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan perubahan iklim, diperlukan pemahaman dan penerapan perilaku sehat untuk membantu masyarakat beradaptasi terhadap perubahan tersebut, dan hal tersebut dapat dimulai dari usia dini yaitu usia anak sekolah dasar.
Di Indonesia, fakta tersebut menggugah Tupperware Indonesia untuk menggelar Seminar Aku Anak Sehat 2010 untuk guru sekolah dasar di tiga kota besar (Jakarta, Bandung dan Surabaya) untuk guru-guru sekolah dasar dari JaBoDeTaBekKra dan sekitarnya, Bandung dan sekitarnya serta Surabaya, Sidoarjo, Malang dan sekitarnya.
Seminar ini bertujuan untuk membekali para guru dengan kemampuan untuk mensosialisasikan perilaku bersih dan sehat kepada murid, dan merupakan awal dari rangkaian Program Aku Anak Sehat yang dilakukan sebagai kegiatan CSR tahunan Tupperware. Program Aku Anak Sehat bertujuan memberi edukasi perilaku sehat kepada anak (kelas 1-3 SD) dengan membiasakan mencuci tangan, tidak sembarangan membuang sampah, dan membawa bekal dari rumah (tidak jajan).
Yanty Melianty, Marketing Director Tupperware Indonesia, menjelaskan kebutuhan melibatkan guru dalam mensosialisasikan perilaku sehat kepada anak, “Sebagai pendidik, guru tentunya sangat berpengaruh dalam menanamkan dan menyebarkan mengenai perilaku sehat kepada anak-anak didiknya. Namun lebih penting, guru juga bisa berperan besar dalam memberi sustainability (kesinambungan) dalam menggalang perilaku sehat, apabila mereka dibekali ilmu seperti cara berkomunikasi yang efektif dengan anak, standar lingkungan yang sehat, serta pengetahuan mengenai keamanan pangan dan wadah bekal yang aman.”
Menyadari kebutuhan tersebut itulah, maka Tupperware pun mengawali program Aku Anak Sehat dengan mengadakan Seminar Aku Anak Sehat untuk guru. “Tupperware berharap para guru bisa meneruskan pengetahuan dan ilmu yang mereka dapatkan di seminar kepada lingkungan sekitar mereka.
Ditambah dengan peningkatan resiko oleh karena perubahan iklim yang kini sedang menjadi tantangan global, kedepannya guru akan berperan lebih penting lagi untuk melanjutkan penerapan perilaku sehat kepada generasi berikutnya,” Bu Yanty melanjutkan.
Seminar Aku Anak Sehat 2010 yang akan melibatkan 900 guru akan diselenggarakan pada tanggal 14 Juli di Jakarta, 26 Juli di Bandung, serta 9 Agustus di Surabaya.
Dengan tema “Standarisasi Kebersihan dan Keamanan Pangan,Wadah serta Lingkungan Sekolah”, para guru akan menerima materi mengenai pentingnya kebersihan, lingkungan yang sehat, pendekatan yang efektif terhadap anak didik serta jajanan sehat sebagai upaya untuk membekali murid-murid menghadapi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Melalui pemahaman para guru, diharapkan murid-murid bisa mengadopsi dan menerapkan perilaku sehat untuk mendukung mereka dalam meraih cita-cita.
Sesi seminar akan diisi oleh Dr. Ir. Yadi Haryadi, M.Sc (pakar Ilmu dan Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor), Drs. Suratmono MP (Direktur Surveilan BPOM), Drs. Momon Sulaeman, M.Pd (Kasie DikDas Jakarta Selatan), serta Dr. Rose Mini A.Prianto, M.Psi (Psikolog Anak).
Keterlibatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam seminar ini terkait dengan maraknya jajanan yang membahayakan kesehatan anak. Di sisi lain, juga disampaikan gagasan sekolah sehat oleh Seksi Pendidikan Dasar Departemen Pendidikan Nasional demi terwujudnya lingkungan sehat bagi para murid.
Program Aku Anak Sehat 2010 akan dilakukan mulai bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2010 di tiga area kota besar yaitu JaBoDeTaBekKra dan sekitarnya, Bandung dan sekitarnya serta Surabaya, Sidoarjo, Malang dan sekitarnya. Diharapkan pada tahun ini, lebih dari 250 sekolah dasar akan berhasil dikunjungi oleh Tupperware.
Dalam program Aku Anak Sehat, murid kelas 1-3 sekolah dasar dapat mengikuti film kartun edukasi Aku Anak Sehat, sedangkan sekolah akan mendapatkan 2 set tempat sampah (organik, non organik dan berbahaya), 1 set tempat cuci tangan kaki, 3 set kata-kata motivasional dan 2 poster edukasi kebersihan untuk anak.
Kota besar selalu identik dengan polusi udara yang tinggi baik dari kendaraan atau industri. Olahraga di tengah kota yang memiliki polusi udara ada efek negatifnya. Karena itu siasati waktunya, agar olahraganya tak sia-sia.
Jika seseorang secara teratur melakukan olahraga di daerah yang memiliki polusi udara akan berdampak buruk terhadap kesehatannya, terutama bagi orang yang memiliki penyakit paru-paru kronis, jantung atau diabetes.
"Saat seseorang melakukan olahraga, bahkan dengan intensitas yang rendah maka ia akan bernapas 10 kali lebih banyak dibandingkan saat sedang istirahat," ujar Edward R. Laskowski, M.D, seorang physical medicine and rehabilitation specialist, seperti dikutip dari Mayo Clinic, Selasa (30/11/2010).
Dalam kondisi seperti itu, orang cenderung akan menarik napas lebih mendalam ke dalam paru-paru dan bernapas melalui mulut, sehingga melewati penyaringan saluran di hidung.
Faktor-faktor ini akan meningkatkan kontak tubuh dengan polutan, kombinasi antara polusi udara dan olahraga ini akan menimbulkan risiko.
Paparan polusi udara atau partikel kecil dari debu atau aerosol yang ada di udara bisa memicu beberapa risiko kesehatan, seperti:
1. Terjadi peningkatan kerusakan yang signifikan pada saluran udara kecil di paru-paru. 2. Peningkatan risiko serangan jantung dan stroke pada perempuan yang telah berusia lanjut. 3. Peningkatan risiko kematian akibat kanker paru-paru dan penyakit jantung.
Untuk membatasi dampak buruk dari polusi udara ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat olahraga, yaitu:
1. Usahakan jika berolahraga di luar ruangan dilakukan saat pagi hari, karena belum banyak kendaraan yang berlalu lalang sehingga tingkat polusinya tidak tinggi. 2. Hindari olahraga saat tengah hari atau siang hari. 3. Menghindari berolahraga seperti jogging atau jalan kaki di daerah yang jalanannya macet, untuk itu sebaiknya berolahraga di radius lebih dari 15 meter dari jalan. 4. Variasikan dengan berolahraga di dalam ruangan, bisa di dalam rumah atau mengikuti kelas kebugaran.
Polusi udara bisa menyebabkan beberapa penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akibat senyawa nitorgen yang melemahkan rambut getar di dalam tenggorokan, menurunkan hormon seksual seseorang, mengganggu kelenjar endokrin, serta bisa menyebabkan karies gigi akibat radikal bebas dari asap kendaraan.
Jika memang diketahui memiliki kondisi kronis atau ingin tetap sehat, sebaiknya perhatikan udara di sekitar jika ingin melakukan olahraga di luar ruangan agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
Ketidakpedulian terhadap penggunaan bahan bakar bersih, diversifikasi energi, pengendalian emisi, dan manajemen transportasi kini telah berdampak, baik terhadap lingkungan dan bahkan mempengaruhi kesehatan manusia. Hasil penelitian menunjukkan, pencemaran udara di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia sudah mencapai titik kritis karena melampaui baku mutu dengan polutan utama gas Nitrogen oksida dan Partikel debu atau TSP (Total Suspended Particulate). Pengaruhnya terhadap kesehatan sebenarnya sudah dialami masyarakat. Setiap tahun, hampir setengah juta penduduk Asia termasuk Indonesia menderita penyakit saluran pernapasan, asma, iritasi mata dan kulit, bahkan meninggal. Penyakit autis yang belakangan ini banyak terdeteksi, telah terbukti terkait dengan kandungan logam dalam urin, darah, dan rambut anak-anak. Sedang paparan timbal (Pb) yang juga merupakan pencemar udara utama, diketahui menyebabkan turunnya tingkat IQ pada anak-anak.
Pencemaran udara juga memicu kerugian ekonomi dan menurunnya kualitas hidup, misalnya tidak dapat bekerja dan sekolah karena sakit. "Di Indonesia khususnya di kota Jakarta pencemaran udara telah menjadi masalah serius. Tahun 1998 estimasi kerugian ekonomi akibat dari pencemaran udara kira-kira satu persen dari total GDP (Gross Domestic Product)," seperti yang pernah dikemukakan oleh : Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Masnellyarti Hilman, dalam diskusi panel Pencemaran Udara dan Dampak terhadap Kesehatan Manusia, di Jakarta.
Menurut data yang dikeluarkan Laboratorium Udara Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Sarpedal) KLH, khusus untuk parameter NO, sudah mencapai 49,8 ppb (part per billion) di titik-titik disekitar jalan raya. Tingkat ini melebihi standar baku mutu nasional 48,7 ppb. Sedangkan titik yang jauh dari jalan raya-walaupun masih di bawah standar-kadar NO sudah mengkhawatirkan dengan kisaran 8-40 ppb. Parameter TSP konsentrasi rata-rata tahunannya juga telah melebihi standar baku mutu nasional (90 mikrogram per meter kubik), yaitu tercatat berkisar 91 hingga 145 (g/m3) baik di lokasi sekitar maupun yang jauh dari jalan raya. Hasil penelitian ini dikeluarkan Laboratorium Udara Sarpedal KLH (Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan - Kementerian Lingkungan Hidup). Dan hasil penelitian ini pula atas proyek kerjasama Sarpedal KLH dan JICA (Japan International Cooperation Agency) yang mengukur kualitas udara polutan yaitu Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen oksida (NO2 dan NOx) serta TSP (Total Suspended Particulate) pada 21 titik sampling di wilayah Jabotabek selama kurun waktu tahun 2002 hingga 2004. Titik sampling yang dipilih mewakili daerah peruntukan perumahan, industri, sempadan jalan raya, daerah pariwisata dan komersial. Bagaimana hasil penelitian setelah parameter tersebut setelah tahun 2004 sampai saat ini, dipastikan kadar gas pencemar semakin meningkat karena perkembangan industri semakin pesat.
Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar mengatakan peningkatan zat pencemar di udara yang terus berlangsung secara mengkhawatirkan itu terjadi pada tahun-tahun terakhir ini bukan hanya di Jakarta tapi juga kota-kota besar lainnya yaitu Surabaya, Semarang, Bandung dan Medan. Dari pemantauan terhadap berbagai parameter kualitas udara ambien di kota-kota besar tersebut yang cukup memprihatinkan adalah debu atau partikulat, Sulfur dioksida, Nitrogen oksida, Karbon monoksida, dan Hidrokarbon. Parameter pencemar udara lainnya yang juga mendapat sorotan akhir-akhir ini adalah Timbal (Pb) yang terdapat pada bahan aditif dalam bahan bakar bensin
Rachmat Witoelar mengharapkan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang dampak pencemaran udara baik dari industri, dan transportasi terhadap kesehatan. Diharapkannya pula peningkatan kinerja instansi pemerintah terkait dan para stakeholder dalam pengelolaan kualitas udara khususnya di DKI Jakarta, dan sekitarnya.
Dampak Polusi
Sementara itu Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup KLH, Masnellyarti Hilman, mengungkapkan berbagai dampak pencemaran udara di Indonesia. Setiap tahun hampir setengah juta penduduk Asia, termasuk Indonesia menderita berbagai penyakit seperti penyakit saluran pernafasan, asma, iritasi mata dan kulit bahkan sampai meninggal dunia.Hal ini disebabkan oleh adanya zat dan gas beracun seperti partikel halus (debu), serta Karbon monoksida, Nitrogen dioksida dan Sulfur dioksida yang diemisikan dari sumber tidak bergerak maupun bergerak atau dari kendaraan bermotor.
Pencemaran udara juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan menurunnya kualitas hidup, misalnya tidak dapat bekerja dan sekolah karena sakit. Di Indonesia khususnya di kota Jakarta pencemaran udara telah menjadi masalah yang serius. Pada tahun 1998 estimasi kerugian ekonomi akibat dari pencemaran udara kira-kira satu persen dari total GDP (Gross Domestic Product) dan terus meningkat sampai saat ini.
Karena efek pencemaran gas beracun bersifat kumulatif, sehingga kerugian secara langsung tidak bisa terukur. Dampak pencemaran udara itu baru terlihat setelah beberapa tahun kemudian. Contoh dampak pencemarn udara ini yakni : penurunan IQ (kecerdasan) pada anak-anak akibat paparan Timbal (Pb) di udara, baru dapat diketahui setelah 10 - 20 tahun kemudian berupa generasi muda yang IQ-nya di bawah standar.Akhir-akhir ini masalah autis juga telah terdeteksi, yang disebabkan kandungan logam dalam urin, darah dan rambut anak-anak cukup tinggi. Penelitian di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa 1 dari 50 anak terkena autis, hasil yang sangat signifikan sekali
Pencemaran udara di Indonesia terutama di kota-kota besar memang sudah sangat mengkhawatirkan, namun sulit dielakkan, karena pemilihan penggunaan bahan bakar fosil untuk sarana transportasi, dan belum luasnya pemakaian alat pereduksi emisi di pabrik karena membutuhkan dana yang besar. Dalam pengendalian pencemaran udara diharapkan Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yaitu mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, menumbuhkan kesadaran dan peran masyarakat dalam pengendalian pencemaran udara, menganjurkan lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat untuk menanam berbagai pohon yang mampu menyerap gas beracun, seperti pohon gantri, angsana dan felicium.
Peran aktif masyarakat dalam pengendalian pencemaran udara menjadi sangat penting karena sumber pencemaran udara berada ditangan masyarakat sendiri. Oleh sebab itu sebaik apapun kebijakan maupun peraturan yang ada, tanpa peran aktif masyarakat sebagai pelaku maupun pihak yang terkena dampak maka upaya pengendalian pencemaran udara tidak akan berhasil dengan baik. Untuk pengendalian polusi udara dari sumber bergerak seperti mobil, truk atapun bus dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain menerapkan kebijakan harga. Hampir 75 persen dari hasil minyak habis untuk subsidi harga BBM. Hal ini menghambat diversifikasi energi terutama gas alam yang tergolong ramah lingkungan. Cadangan gas Indonesia dua kali cadangan minyak tetapi pengembangannya terhambat oleh subsisi harga BBM. Diperlukan juga pembenahan manajemen transportasi khususnya di Jakarta. Akibat kemacetan di Jakarta terjadi pemborosan biaya transportasi sebesar Rp 17,2 triliun pertahun atau Rp 45 miliar perhari, yang ekivalen dengan 7,8 persen total PDRB DKI Jakarta.
Hasil Penelitian
Penelitian yang dilaporkan Bank Dunia pada tahun 1994 menyebutkan sektor transportasi menyumbang hampir 80 % total polusi Nitrogen dioksda dan 70 persen polusi Sulfur dioksida yang berasal dari industri. Sementara itu Sarpedal pada tahun 2003 mengestimasi total beban pencemaran dari sumber transportasi, pabrik dan rumah tangga Nitrogen oksida mencapai 24.696 ton pertahun, Sulfur dioksida 35.456 ton/tahun, dan TSP 4.669 ton/tahun.
Hasil simulasi terhadap NOx diketahui konsentrasinya terdistribusi pada seluruh daerah Jakarta, dan konsentrasi tertinggi didapati pada sekitar daerah jalan utama dan jalan layang. Hasil simulasi TSP konsentrasinya terkumpul dan tertinggi di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.
Penelitian juga dilakukan Sarpedal KLH terhadap penyakit saluran pernafasan akibat tingginya konsentrasi gas polutan seperti SO2, NOx, dan TSP terhadap anak SD di DKI Jakarta. Kesimpulannya di Jakarta sudah tidak ada lagi tempat yang aman bagi anak-anak dari dampak pencemaran. Daerah yang tinggi tingkat polusinya adalah Jakarta Utara meliputi Palmerah, Kalideres, Sawah Besar, Cilincing dan Tanjung Priok. Kenyataan menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi tempat tinggal yang sehat dan nyaman terutama untuk anak-anak.
Tingginya pencemaran udara di Jakarta juga ditunjukkan oleh data ISPU tahun 2002 yang menyimpulkan hanya 22 hari kota Jakarta dinyatakan sehat, selebihnya tercemar. Pada tahun 2003 bahkan hanya 7 hari sehat. Hal ini terkait dengan jumlah kendaraan di Jakarta yang hampir 3 juta dan diperkirakan akan meningkat setiap tahun. Masalah peningkatan jumlah kendaraan ini akan menjadi faktor utama penyebab menurunnya kualitas udara. Bagaimana tingkat pencemaran saat ini (jumlah hari sehat) di Jakarta, pastinya telah menurun lagi dari tahun 2003 yakni bisa di bawah 7 hari sehat karena makin bertambahnya jumlah kendaraan dan konsumsi bahan bakar. Dengan keadaan seperti ini apakah kita sebagai penduduk Jakarta peduli dengan kualitas udara Jakarta dan apa peran kita dalam mengambil bagian pengendalian pencemaran udara? Semoga kenyataan ini menjadi introspeksi dan pemikiran setiap orang dan pelaku usaha untuk mencari ide dalam memberikan kontribusinya untuk lingkungan. Kontribusi kita terhadap lingkungan secara sederhana yang cepat dapat dilakukan misalnya :Pembuatan Lubang Resapan Biopori di setiap lahan terbuka atapun penanaman pohon di lahan terbuka sampai kepada daur ulang sampah rumah tangga, pemanfaatan limbah atau sampah organik, pengelolaan sampah non-organik menjadi sesuatu yang dapat digunakan dll. Khusus dalam dunia industri alangkah baiknya segala perencanaan pengelolaan lingkungan dikemas dalam satu sistem manajemen lingkungan sehingga arah, tujuan bahkan benefit yang didapat dari pengelolaan lingkungan ini dapat terkelola dengan baik dan tepat sasaran. Mari kita sama-sama memberikan kontribusi untuk pelestarian lingkungan yang sudah semakin tua ini.