7 Jan 2009

Sehat dengan Sayur dan Buah Organik?

Jika menelusur cara buah dan sayuran organik dibudidayakan, tidak mustahil Anda akan makin memahami gaya hidup back to nature yang sebenarnya. Organik makanannya, organis perilakunya. Seperti apa? Wortel sekilo harganya hampir sepuluh ribu rupiah! Seorang ibu muda mengamati wortel dalam kemasan plastik bertuliskan “organic” di sebuah supermarket besar di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Perempuan tersebut tidak serta merta memasukkan wortel itu ke dalam kereta belanjanya, melainkan mengamat-amatinya. Mungkin pikirannya sedang berkecamuk, di pasar dia bisa mendapatkan wortel sebanyak itu, hanya dengan harga tak sampai separuhnya. Toh setelah bolak-balik melihat bungkusan wortel non-organik yang dipajang tak jauh dari situ, sang ibu memungut satu bungkus wortel organik dan memasukkannya ke dalam trolinya.

“Penasaran, sih! Pingin coba wortel organik yang diceritakan teman saya. Katanya lebih awet, nggak cepat bonyok,” jawabnya saat ditanya kenapa akhirnya memilih wortel organik itu.

Hanya karena penasaran, demikian salah satu alasan kenapa orang memilih bahan pangan organik. Bisa juga, karena kini produk tersebut relatif mudah didapat di kota-kota besar seperti Jakarta ini. Selain tersedia di beberapa pasar swalayan besar, produk organik juga bisa didapat di toko-toko khusus yang menjual produk organik. Jenisnya pun makin beragam, bukan hanya sayur dan buah, tetapi juga beras, palawija, jamur, telur, pangan olahan (kecap, yogurt, selai, pasta, tahu, tempe), produk perawatan tubuh yang digunakan sehari-hari (sabun, shampoo, pasta gigi), pembersih lantai, obat nyamuk, dan banyak lagi.

Agaknya kini posisi pasar produk organik makin menguat, sehingga dalam tata pergaulan kota metropolitan, mungkin saja yang tak kenal sayur organik dianggap kurang gaul. Seperti alasan yang dikatakan ibu tadi, dia memilih produk organik karena penasaran, bermaksud mencobanya jangan sampai dikatakan kuper jika sedang berkumpul dengan kawan-kawannya. Ini adalah salah satu tipe konsumen organik yang memilih produk hanya berdasar ikut-ikutan saja.

Tetapi model cantik Arzety B. Setyawan (32 tahun) bukan sekadar ikut tren jika ia berniat membesarkan kedua putranya, Bagas Setyawan (2 tahun) dan Dimas Setyawan (1 tahun), dengan bahan pangan organik. Di antara kesibukannya mengelola jasa sekolah modeling dan sebagai event organizer, dua hari sekali Arzety ke supermarket untuk memilih sendiri bahan pangan organik bagi kedua buah hatinya itu berupa sayur dan buah, beras merah, pasta yang menjadi makanan favorit anak-anaknya.

Arzety sekaligus memasaknya sendiri, karena tidak ingin memasukkan garam ke dalam bahan santapan anaknya. Sebagai gantinya Arzety memberinya bumbu organik dari bahan ekstrak jamur. Model ini mengaku sejak mengandung anak pertama ia sudah mulai mengkonsumsi bahan pangan organik.

“Syukur, ternyata hasilnya anak-anak jarang sakit. Jika dikatakan pangan organik itu mahal, saya pikir nggak juga, karena beda harganya tidak seberapa dibanding dengan sayur biasa. Apa artinya membeli makanan murah tetapi di belakang hari menimbulkan penyakit macam-macam? Harapan saya dengan memberikan ‘bekal sehat’ sejak dini, terutama di masa emas pertumbuhan, anak-anak akan sehat secara optimal,” katanya serius.

Uli Dian juga mempunyai alasan kuat menjadi konsumen organik. Yang awalnya memilih bahan pangan organik demi untuk salah satu anaknya yang menyandang autistik, akhirnya seluruh anggota keluarga ikut mengkonsumsi bahan pangan tersebut.

“Tubuh anak saya kurang mampu mendetoks toksin (racun). Jika makanannya tidak cocok, badannya langsung biru-biru. Makanya saya harus memberi makanan yang seminimal mungkin mengandung toksin. Solusinya jelas, bahan pangan organik. Itu yang terbaik untuk anak,” kata Uli yang mulai menjadi pelanggan bahan pangan organik sejak tahun 2002. Mengingat efek makanan yang sangat mempengaruhi kesehatan anaknya, maka Uli tidak bisa sembarangan mencomot produk organik.

“Mau ganti produk lain masih was-was, karena belum yakin keasliannya. Saya mesti hati-hati, karena taruhannya langsung kesehatan anak saya,” tutur ibu yang sejak awal memilih produk organik palawija dari Konphalindo (Konsorsium Pelestari Hutan & Alam Indonesia) dan sayur mayur dari perkebunan organik Bina Sarana Bhakti di Cisarua yang dikelola oleh Pastor Agatho.

Rendahnya kualitas bahan pangan, lebih-lebih di kota-kota besar dengan polusi yang makin tidak terkendali, menjadi alasan dr. Trisna Nilamaya menjadi konsumen organik. “Pengawasan pangan di negeri ini sangat longgar, sehingga tambahan zat kimia sintetik pada makanan sangat berlebihan,” ujar dokter ahli akupunktur yang sudah 2 tahun menjadi pelanggan pangan organik ini.

Seminggu sekali dari tempat tinggalnya di kawasan Cakung, Maya mesti menjemput hasil panen pangan organik dari Entik Umar, seorang petani organik di kaki Gunung Pangrango, Mega Mendung, Puncak. Selain sayur, palawija, serta umbi-umbian, Maya membeli daging ayam, telur, tahu, tempe, dan kecap organik.

“Jika mengamati cara bertani dan beternak zaman sekarang, petani dengan enteng menyemprot tanaman dengan obat-obatan dan menyuntik ternak dengan hormon kesuburan. Waduh! Membiarkan anak-anak mengkonsumsi sayur atau daging ternak seperti itu, sama saja dengan meracuni mereka pelan-pelan. Tindakan preventif menjaga kesehatan keluarga yang bisa saya lakukan sekarang ini, ya dengan memanfaatkan bahan pangan organik. Apalagi untuk anak-anak, saya berusaha sedini mungkin. Kebetulan ada seorang kerabat yang menderita kanker, sekalian saya belanjakan bahan pangan ini,” begitu alasan ibu dari Abhimata (13 tahun) dan Bening (7 tahun) ini.

Benarkah produk pangan organik menyehatkan?

Walau telah meminimalkan penggunaan bahan kimia (pestisida dan pupuk), belum ada jaminan produk pangan organik yang dihasilkan terbebas dari bakteri beracun. Penelitian mikrobiologis keamanan pangan organik yang dilakukan di IPB dengan meneliti 3 contoh sayuran yang diperoleh dari perkebunan yang berbeda, menunjukkan jika pengomposan pupuk organik kurang sempurna bisa berakibat hasil panennya berpeluang mengandung bakteri patogen seperti Salmonella dan Escherichia coli. Karena itu pencucian yang seksama (menggunakan air matang) penting untuk menjamin keamanan sayuran organik.

Anjuran para ahli gizi untuk mengkonsumsi buah dan sayur segar 5-7 porsi sehari bisa dipenuhi dengan memilih bahan pangan organik yang bersertifikat. Dengan demikian perkembangan penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, jantung koroner, diabetes, hipertensi, katarak, bisa dicegah dengan terpenuhinya zat gizi dari bahan pangan tersebut. Demikian disampaikan oleh dosen ilmu gizi masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Ahmad Sulaeman, PhD.

Hasil penelitian The British for Allergy, Environmental and Nutritional Medicine yang dicantumkan dalam buku Gerakan Menuju Dunia Berkelanjutan yang diterbitkan oleh Konphalindo, meyakini bahwa penyebab mendasar defisiensi unsur nutrisi mikro yang banyak diidap pasien-pasien di sana sekarang ini, disebabkan oleh penipisan mineral tanah. Hal ini terjadi karena terkurasnya mineral tanah oleh praktik pertanian intensif. Lembaga ini juga menduga meningkatnya paparan pestisida memberi kontribusi meningkatnya alergi dan penyakit lain yang menghawatirkan.

Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa hasil kajian yang mengindikasikan paparan pestisida berkemampuan menurunkan fungsi reproduksi pria (melemahkan kemampuan sperma). Sedangkan asosiasi petani organik Denmark menuliskan laporan penelitian terhadap sekelompok laki-laki yang mengkonsumsi susu organik (dengan jumlah separuh dari asupan susu setiap hari) ternyata kepadatan spermanya lebih tinggi.

Kualitas pangan anak-anak pra sekolah di Seattle, Amerika Serikat, juga diteliti para ilmuwan. Kandungan hasil metabolisme dimetil (yaitu zat yang berpotensi karsinogen) dalam darah, ternyata enam kali lebih tinggi pada kelompok anak yang mengkonsumsi pangan non-organik.

Pengalaman pribadi dokter ahli naturopati, Gloria Gilbere, ND, DAHom, PhD yang dituliskannya dalam buku / was Poisoned by my Body secara gamblang menjelaskan betapa dokter yang mendalami ilmu homeopati, psikologi lingkungan, ilmu gizi, herba, serta TCM tersebut sangat tergantung pada produk pangan organik.

Menurutnya, pola makan organik yang tersusun dari bahan-bahan bebas kimia sintetis, secara perlahan sanggup menata kembali metabolisme tubuhnya yang sudah dikacaukan oleh penyakit hronic fatigue, fibromyalgia, leaky gut (kebocoran usus ), dan multiple chemical sensitivity syndrome (alergi yang parah). Pola makan organik Gloria merupakan cara pengobatan yang tepat untuk meraih kesehatan secara alami.

Rini Damayanti, dokter umum lulusan Universitas Pajajaran yang mendalami bidang nutrisi di SEAMEO Universitas Indonesia dan melanjutkan studi Natural Healing di Westbrook University, New Mexico, Amerika Serikat, menyebutkan dampak negatif pestisida langsung berpengaruh pada sistem neurotransmitter, sistem endokrin/hormonal, meningkatnya zat karsinogen (pencetus kanker), dan tertekannya sistem imunitas atau kekebalan tubuh.

Menurut Rini yang pernah mengelola 3 hektar perkebunan organik di kawasan Ciwidey, Bandung Selatan, tubuh manusia pada dasarnya tersusun dari ikatan garam organik. Bahan kimia sintetis atau anorganik (yang berupa logam berat dari polusi, makanan, rokok, pestisida, dan pupuk dengan kandungan unsur nitrogen, kalium dan fosfor berlebihan) yang masuk tubuh akan sulit dicerna dan diserap sistern metabolisme tubuh.

Dalam kondisi ini sistem imun tubuh akan bekerja keras dengan mendetoksnya. Kemampuan detoks setiap individu berbeda-beda, terutama pada anak-anak dengan gangguan konsentrasi seperti autistik, sangat rendah. Akibatnya, zat-zat kimia anorganik terakumulasi, yang akhirnya melemahkan fungsi organ tubuh.

“Dengan demikian tubuh menjadi tidak peka, sistem alami tubuh yang mestinya memberi sinyal saat tubuh terganggu, menjadi tumpul. Akibatnya, tiba-tiba tubuh ambruk dengan kondisi yang parah,” lanjut Rini.

Menyebarkan gaya hidup sehat

Adalah menarik jika diamati bahwa ternyata tren makan sayur organik telah menuntun para konsumen peduli/fanatik untuk menelusur lebih jauh gara hidup alami. Bukan hanya sebatas sharing info alamat, tetapi juga membuka forum komunikasi lebih luas untuk saling memberi wawasan baru perihal gaya hidup back to nature.

Contohnya Ani Bagwanto, ibu tiga anak yang salah satunya menyandang ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Pada awalnya, Ani hanya memburu produk organik untuk keperluan anaknya. Namun karena kepeduliannya pada kesehatan anak-anak lain dengan kebutuhan khusus, Ani menjadi tempat bertanya para orangtua yang mempunyai problem serupa. Selain menyediakan pangan olahan organik dan suplemen khusus, Ani juga menggelar ajang diskusi, pelatihan praktis, bahkan menerbitkan buletin khusus yang menjadi ajang komunikasi dan sharing pengalaman.

Bibong Widyarti yang sudah lebih dari 5 tahun menjadi konsumen organik, mengatakan bahwa pangan organik membawanya semakin mantap menerapkan cara hidup back to nature. Untuk mengenal lebih jauh sayur organik, ibu dua orang anak ini langsung meninjau dan belajar cara bertani organik ke kebun Pastor Agatho.

Bibong pun kemudian mempraktikkan bercocok tanam sayur, bumbu dapur, dan tanaman obat di halaman rumahnya. Ibu rumah tangga lulusan IPB ini terus mencari info seputar bahan pangan organik yang kemudian menuntunnya untuk belajar tentang memasak makanan sehat, dasar ilmu nutrisi, bubidaya sampah, produk daur ulang, aktivitas pelestarian alam, dan kini Bibong mulai menyoroti khusus masalah pemanasan bumi.

Belakangan ia mengajar cara hidup sehat pada anak-anak dengan berkunjung ke sekolah-sekolah dan kelompok ibu-ibu rumahtangga. Ia juga aktif dalam seminar-seminar, bahkan hadir di arena pameran produk organik negara Asia di Singapura tahun lalu. Cita-citanya menggalang wadah antar sesama konsumen organik dengan merinos website ‘rumah organik’.

Mustahil menjadi organik sendirian

“Organik ternyata menyadarkan kita bahwa kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari organisme dunia. Jadi setelah meyehatkan diri, kita mestinya juga bisa menyehatkan teman dan lingkungan,” katanya.

Bagi petani dan pengusaha perkebunan organik seperti Agus Margono, pengalaman mengelola kebun organik sejak tahun 1998 telah mengasah cara berpikirnya menjadi terbuka. “Kalau tidak terbuka maka tidak bisa maju, karena dalam bertani organik, semua aktivitas di lapangan bersifat coba-coba. Ini yang mendorong kita untuk terus belajar. Selain itu cara pertanian ini telah mengajar kita untuk bersikap mandiri dan mengoptimalkan yang ada,” kata Agus Margono.

Kata sifat organis sama dengan organik (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) menjelaskan ciri khas organ atau bagian terhadap organismenya atau kelompok yang lebih besar. Maksud dan sebab keberadaan setiap organ adalah melengkapi dan melayani seluruh organisme. Andai satu organ berjalan mencari kepentingannya sendiri, pasti organ lain dirugikan dan dilemahkan. Keberhasilan suatu organisme tergantung pada pelayanan dan perhatian di dalam organisme itu. Demikian dijelaskan oleh Pastor Agatho, salah satu pelopor pertanian organik di sini, dalam perjumpaan dengan Nirmala beberapa waktu yang lalu.

Biotop (sekelompok kecil mahluk hidup) yang paling khas sampai ekosistem yang paling luas di alam, bahkan setiap organisasi manusia pun, berfungsi dan berkembang dengan syarat yang sama. Setiap anggota mendukung sistem keseluruhan, dan keseluruhan memperhatikan, menumbuhkan bagian-bagiannya. Jadi tidak mungkin sendirian menjadi organik. Pribadi yang labil dan oportunis tidak mungkin menjadi organik.

Bagaimana mungkin seorang petani sendiri berproduksi organik jika lahan sekelilingnya disemprot dan digelontor dengan pupuk kimia sehingga udara dan air tanah tercemar? Kita ambil contoh tubuh kita yang merupakan satu contoh organisme; jika salah satu organ terganggu misalnya sakit gigi, maka keseluruhan tubuh juga akan terganggu. Oleh karena itu, mereka yang berniat menyebarkan gaya hidup organik mutlak harus bekerjasama agar bisa berhasil.

Sikap hidup organik tidak mengenal saingan atau musuh, semua harus bekerja sama dan saling membantu agar bisa kuat. Meskipun begitu tetap ada syaratnya, Pertama mempunyai cita-cita dan keyakinan yang sama; kedua, usaha bersama ini menggunakan cara kerja yang sama, mungkin perlu merek yang sama pula; dan ketiga, tanggung-jawab dan kejujuran setiap anggota menjadi kunci utama.

Pimpinan bukan hanya mengontrol tetapi harus selalu membantu langsung dalam pelaksanaan kerja. Dengan demikian, kesehatan tubuh sangat tergantung pada kesehatan masing-masing organnya. Menyehatkan bumi, semestinya harus menyehatkan diri kita masing-masing.

Bagaimana memilih produk organik

Mencirikan produk sayur organik bukan sekadar memilih yang bolong pertanda bekas dimakan ulat. Apa ciri produk pangan organik? Bagaimana konsumen bisa mengenalinya? Masalah keaslian produk, memang masih menjadi pertanyaan besar di antara konsumen. Dulu, banyak orang berpedoman pada bentuk fisik yang jelek tidak mulus misalnya daun selada yang berlubang, wortel yang bengkok dan semacamnya, bisa dianggap sebagai sayur organik yang asli. Tapi cara ini banyak disanggah oleh para petani organik. Menurut mereka, cara bertani dengan pengawasan yang baik, tidak mustahil bisa dihasilkan sayur yang mulus dan bersih.

Untuk dinyatakan sebagai pangan organik, cara bertaninya harus memenuhi persyaratan sistem pertanian organik. Bukan semata-mata tidak menggunakan pestisida, tetapi secara keseluruhan sistem pertaniannya menerapkan prinsip organik. Ada 17 prinsip, antara lain memelihara ekosistem untuk mencapai produktivitasyang berkelanjutan, mengendalikan tanaman pengganggu/gulma, hama, dan penyakit dengan cara-cara alami (misalnya daur ulang residu tanaman dan ternak, menggilir dan menyeleksi tanaman, pengadaan pengairan, penggunaan bahan hayati dan lain-lain), sehingga mampu mempertahankan keseimbangan dan keselarasan alam, demikian penjelasan Ahmad Sulaeman Ph D, Direktur Indonesian Sustainable Agricultural Initiatives (ISAI).

Ahmad Sulaeman yang juga Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Masyarakat Pertanian Organik (Maporina) berpesan kepada konsumen, bahwa satu-satunya cara yang paling sah sebagai tanda pengenal organik adalah sertifikat organik pada label kemasan yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi yang terakreditasi serta diakui pemerintah. Jangan begitu saja percaya pada tulisan “organik” jika tidak ada sertitifikasi, mengingat tulisan organik bisa saja asal tempel. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada pengusaha pertanian organik yang sudah diakreditasi sesuai standar nasional sistem organik yaitu, SNI no 01-67292002.

Ir Syukur Iwantoro, MSc, MBA yang menjabat sebagai Kepala Pusat Standardisasi dan Akreditasi (PSA) pangan organik (20012004) menyatakan sudah merintis proses sertifikasi pangan organik, antara lain dengan dicapainya kesepakatan yang dituangkan dalam Standar Nasional Indonesia tersebut. Selain melakukan pembinaan pada petani, merangsang pertumbuhan lembaga-lembaga sertifikasi lokal, PSA juga melakukan usaha pembuatan label organik (warna hijau untuk organik murni, dan kuning untuk transisi organik). Namun upaya ini kini tersendat, karena sejak 2 tahun lalu PSA dilebur ke dalam Direktorat Jendral Pengolahan & Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian.

“Sekarang ini masyarakat organik kita sudah menunggu, moga-moga pemegang otoritas pangan organik yang baru ini bisa berakselerasi, mempercepat langkahnya, mengatur sertifikasi. Kalau tidak, kemungkinan besar konsumen akan membeli bahan organik dari luar,” ujar Syukur. Tentu saja upaya mendapatkan sertifikasi ini juga menuntut biaya yang tidak sedikit, yang sebagian dibebankan kepada konsumen. Inilah yang ikut melambungkan harga produk pangan organik.

“Padahal jika berdasar perhitungan cara bertani organik, biaya produksi justru rendah karena minim pemakaian pupuk dan obat-obatan. Pada tahun-tahun awal memang terjadi shock produksi, karena pemakaian pupuk dan obat-obatan dihentikan. Pengolahan tanah diubah. Namun berdasar kajian kami, setelah lewat 3 tahun hasil pertanian organik meningkat dan setelah melewati tahun ketujuh, produktivitasnya justru melebihi cara pertanian konvensional.”

Penyebab harga yang relatif mahal justru disebabkan faktor propaganda atau promosi. Dalam masyarakat kita saat ini sudah tumbuh kesadaran bahwa mengkonsumsi produk organik yang dianggap minim tingkat residu zat kimia sintetis ini mampu menyehatkan. Sebagai konsekuensinya, logis saja jika membeli produk bernilai tambah membutuhkan additional cost alias lebih mahal,” lanjut Syukur yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Karantina Pertanian, Departemen Pertanian.

Dugaan ini dibenarkan oleh pengusaha kebun organik Agus Margono. Faktor label atau sertifikat yang menjadi jaminan agar dipercaya konsumen, membutuhkan biaya yang cukup besar. Selain itu upaya kehati-hatian para petani untuk menjaga mutu produk organiknya juga memerlukan tambahan usaha dan biaya. Cukup fair kan!

Tip konsumen

* Waspada pada label organik. Bisa saja ini hanya menjadi jargon untuk menjual, demikian wanti-wanti Dr Tan Shot Yen, dokter yang mensyaratkan pola makan dominan makanan segar dalam terapinya. Yang organik itu selalu bermanfaat buat tubuh manusia, karena sesuai kodratnya. Organik mestinya base on living things atau mentah.
* Produk pangan organik tidak mungkin dijual di sembarang tempat. Tidak ada sayur organik dijual di pasar induk. Jadi pastikan Anda mendatangi tempat yang benar untuk mendapatkan produk organik yang asli.
* Organik tidak harus selalu jelek penampilannya, misalnya berlubang. Dengan pengawasan pengelolaan yang intensif, bisa saja dihasilkan sayur-buah organik yang mulus.
* Walau cara penanaman tanpa bahan kimia, tapi produk organik tidak terjamin bebas bakteri beracun, Jadi sebelum dimakan, sayur organik (misalnya selada, tomat dan wortel) tetap harus dicuci dengan baik, yaitu dengan air kran lalu dibilas dengan air matang.
* Jangan terjebak oleh label “organik” yang dipasang produsen untuk menjual produk olahan yang memang kurang nilai gizinya, misalnya produk olahan jenis cookies dengan kandungan gula, lemak traps, aroma sintetis dan sebagainya. “Meski ditambah label organik, junkfood ya tetap junkfood,” demikian penjelasan Marion Nestle, PhD, MPH, guru besar ilmu nutrisi di New York University. Jadi yang penting saat berbelanja, pertama-tama baca label lalu berpikirlah logis. Tanyakan pada diri sendiri sebelum makan sesuatu, apa manfaatnya bagi tubuh kita. Kalau memang tidak akan mendapatkan apa-apa, lupakan saja.


Sumber: Majalah Nirmala

1 Jan 2009

10 Resolusi Sehat Tahun 2009

Inilah saatnya menyongsong tahun baru. Setiap orang berjanji untuk berusaha hidup sehat di tahun baru, setelah memanjakan diri selama liburan. Biasanya setiap orang memiliki cita-cita yang positif saat berencana untuk membuat resolusi mereka di tahun baru. Meskipun untuk mewujudkan resolusi tersebut tidaklah mudah.



Di bawah ini adalah 10 resolusi sehat yang umum dan membantu setiap individu agar menjadi lebih "SMARTer":

1. "Mulailah Berusaha."
Buatlah beberapa langkah nyata untuk membuat resolusi Anda terlihat lebih spesifik, seperti "Saya akan berjalan di treadmill selama 30 menit, 3 atau 4 kali seminggu" atau " Saya akan memakai 'pedometer' atau penghitung langkah saat bekerja, memarkirkan kendaraan lebih jauh dari pintu masuk kantor dan lebih memilih tangga daripada lift untuk memperoleh lebih banyak langkah per hari."

2. "Menurunkan Berat Badan."
Buatlah tujuan Anda lebih terjangkau dan tepat waktu, seperti "Saya akan menurunkan berat badan 5 pounds di akhir bulan ini." Kemudian wujudkan dengan beberapa langkah yang berhubungan dengan perubahan nutrisi makanan, melakukan olah raga, dll.

3. "Mengkonsumsi Makanan Sehat."
Ubah pikiran Anda dari "Saya akan berdiet" menjadi "Saya membuat perubahan gaya hidup dengan memperbaiki kebiasaan makan saya." Pertimbangkan untuk membuat 'food journal' untuk mendapatkan hal-hal spesifik yang dapat Anda ubah. Langkah-langkah spesifik yang dapat diambil tersebut misalnya "Saya akan membatasi makanan yang manis-manis sebanyak 2 kali seminggu" atau "Saya akan mengurangi konsumsi fast food dari 3 kali seminggu menjadi sekali seminggu" atau "Saya akan meningkatkan porsi buah-buahan dan sayuran menjadi lima porsi per hari."

4. "Berhenti Merokok."
Tentukan sebuah tanggal yang realistis untuk berhenti merokok. Pastikan Anda tidak menyerah dan gagal untuk berhenti merokok terutama di saat-saat stress. Jika Anda perokok berat, berbicaralah pada dokter dan pertimbangkan untuk menggunakan terapi pengganti nikotin seperti permen karet atau pengobatan. Bersihkan rumah Anda dari semua yang berhubungan dengan rokok atau perlengkapan rokok (asbak, lighters, kotak rokok, dll). Atur langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi tembakau Anda secara perlahan, seperti "Saya akan mengurangi rokok dengan satu batang rokok per hari selama seminggu penuh."

5. "Mengurangi Stress"
Cari tahu dan tuliskan penyebab stress Anda. Mengidentifikasi stress merupakan langkah positif yang dapat diambil ketika stress datang dan mengetahui bentuk dukungan apa yang Anda miliki. Sebuah langkah realistis yang diambil mungkin seperti "Selama masa stress, saya akan belajar teknik mengambil napas dalam-dalam, menulis di jurnal atau pergi berjalan-jalan untuk menjernihkan pikiran."

6. "Berhenti Mengkonsumsi Fast Food."
Beberapa orang tidak selalu berhasil untuk langsung berhenti mengkonsumsi fast food, jadi mulailah dengan membiasakan diri Anda dengan pilihan yang lebih menyehatkan dalam memilih menu fast food. Cobalah untuk menggunakan website restoran untuk mencari tahu tentang informasi nutrisi, atau mengambil pamflet nutrisi dalam restoran. Berusahalah meraih rencana kedepan dan bawalah daftar nutrisi makanan selalu bersama Anda. Buatlah spesifik langkah-langkah seperti berikut "Saya akan makan di fast food restoran tidak lebih dari sekali dalam seminggu."

7. "Berhenti Minum Soda."
ungkin tidak realistis jika harus berhenti sama sekali meminum soda untuk diet Anda. Berpikirlah untuk mengurangi jumlah soda yang Anda minum. Sebagai contoh, cobalah untuk mencampurnya dengan diet soda untuk menurunkan kalori, atau cobalah untuk mengganti dengan sirup, teh tanpa gula, atau teh hijau. Sebagai contoh tindakan yang harus dilakukan dapat berupa "Saya akan mengurangi jumlah konsumsi soda yang saya minum dari sekali per hari menjadi dua kali per minggu."

8. "Minum Banyak Air Putih."
Tanyakan diri Anda bagaimana dapat memperbanyak konsumsi air minum. Langkah spesifik dan nyata yang bisa diambil, seperti "Saya akan membawa botol air yang dapat diisi ulang saat saya pergi" atau "Saya akan mengganti minuman berkalori dengan air putih atau sirup."

9. "Tidur Lebih Banyak."
Pikirkanlah cara untuk mencapai tujuan ini. Sebuah contoh tindakan untuk melaksanakan hal ini adalah "Saya akan pergi tidur 30 menit lebih cepat dari biasanya dan menghindari kafein di malam hari." Tetapkan waktu tidur yang lebih tegas, dan berusahalah tetap konsisten terhadap jadwal sehingga membuat tubuh Anda terbiasa. Keluarga yang memiliki anak-anak biasanya memperoleh keuntungan dengan menerapkan jadwal rutin untuk tidur di waktu yang sama pada malam hari.

10. "Mengurangi Alkohol."
Hitunglah sudah berapa banyak alkohol yang sudah Anda minum saat ini. Putuskan berapa jumlah yang cukup realistis untuk menguranginya. Sebagai contoh, jika Anda tipe orang yang pergi minum saat akhir pekan dan meminum enam atau delapan gelas bir, batasi diri Anda dengan meminumnya menjadi dua gelas bir sebagai target Anda. Jika diperlukan, rencanakan langkah demi langkah dengan tindakan seperti "Saya akan menyingkirkan alkohol dari rumah" atau Saya akan menghidari situasi dimana disajikan minuman beralkohol." Carilah orang-orang yang mendukung (atau bergabunglah pada suatu grup pendukung) yang dapat membantu untuk tetap menjaga resolusi Anda.

Sumber: detikFood

29 Des 2008

Nyanyi Yuk, Biar Sehat..!



Menyanyi sangat bermanfaat untuk kesehatan. Selain meningkatkan kekebalan tubuh, menyanyi juga bisa mengurangi nyeri, rasa cemas, depresi, dan mempercepat proses penyembuhan pasien jantung serta stroke.

Suara Orpheus, seorang tokoh dalam mitologi Yunani kuno begitu indahnya, sehingga binatang, pohon dan batu-batuan di sekitarnya pun menari. Suatu ketika isterinya, Eurydice, mati digigit ular. Nyanyian kesedihan Orpheus yang menangisi kematiannya menyentuh Hades, dewa penguasa kematian dan perut bumi. Hades lantas mengijinkan Orpheus membawa isterinya kembali ke kehidupan. Dalam perjalanan ke dalam perut bumi ia dihadang sejumlah monster. Hanya berbekal suara Orpheus mampu menaklukkan monster-monster itu dan membawa Eurydice kembali ke kehidupan.

Tak hanya di perut bumi, di kedalaman hati manusia juga berdiam ’monster-monster’ dalam rupa kemarahan, kesedihan, kecemasan, depresi, dan rasa malu. Emosi-emosi negatif itu umum dijumpai pada pasien pasca serangan jantung dan stroke.

"Pasien stroke dan jantung sering merasa cacat dan tidak berguna bagi keluarganya. Perasaan seperti ini justru memperparah kondisi kesehatan mereka," kata Dr.Hermawan Suryadi,Sp.S dari Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi, Jakarta.

Dengan pemahaman tersebut, dokter yang mengembangkan pengobatan holistik untuk pasien stroke ini memutuskan untuk tidak hanya meresepkan obat, tapi juga meresepkan terapi suara dan karaoke.

"Dokter-dokter di Jepang bertahun-tahun lalu membuktikan bahwa terapi menyanyi membuat pasien cepat sembuh dan lebih bersemangat menjalani program penyembuhan. Dengan menyanyi maka perasaan sedih, depresi, panik dan cemas bisa berkurang sehingga mempercepat proses penyembuhan," ungkapnya.

Dra. Iesye Widodo, Psi., seorang psikolog yang mengembangkan terapi musik dan menyanyi untuk ibu hamil, berpendapat bahwa menyanyi yang dilakukan dengan penghayatan akan membawa suasana hati penyanyinya ke suasana lagu. "Lagu gembira akan membawa suasana gembira demikian pula sebaliknya," kata wanita yang mempelajari terapi musik di Jerman ini.

Iesye lantas bekerjasama dengan Dr. Hermawan memberikan terapi musik untuk manajemen stres bagi kalangan eksekutif, di klinik yang terletak di kawasan Kemanggisan itu. Tujuannya agar serangan stroke bisa dicegah sedini mungkin.

Pribadi Seimbang

* Menurut Dr. Hermawan kegiatan menyanyi mengaktifkan jembatan otak yang sering disebut golden bridge. Jembatan ini menghubungkan otak bagian kiri dan kanan.

Otak kiri adalah pusat bahasa, rasio, matematika, kemampuan baca dan tulis. Sementara otak kanan merupakan pusat intuisi dan kemampuan merasakan, memadukan dan ekspresi tubuh seperti menari, menyanyi dan melukis.

Orang yang banyak menggunakan otak kiri, telinga dan tangan kanannya lebih kuat dibanding telinga dan tangan kiri. "Orang yang dominan otak kirinya bisa saja punya gelar akademis berderet, tapi ia kurang bisa bergaul dan kurang rasa empatinya," kata Iesye memberi contoh.

Orang yang banyak menggunakan otak kanan cenderung lebih kreatif, peka, mudah mengendalikan diri dan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Baik Dr. Hermawan maupun Dra.Iesye Widodo berpendapat bahwa yang terbaik adalah orang yang seimbang penggunaan otak kiri dan kanannya.

Syair lagu berasal dari otak kiri dan tangga nada berasal dari otak kanan. "Menyanyi berarti menggabungkan aktivitas otak bagian kiri dan kanan sehingga jembatan otak menjadi aktif. Orang yang jembatan otaknya aktif adalah pribadi yang seimbang antara kemampuan intelektual dan emosinya," jelasnya.

Menyanyi yang oleh Dr. Hermawan. Terlebih gerakan yang menyilang garis tengah (cross midline). Misalnya tangan kanan digerakkan ke arah kiri. Gerakan menyilang ini merupakan inti dari senam kebugaran otak yang berkhasiat mengaktifkan jembatan otak.

Jadi, mari menyanyi untuk menyehatkan diri!

Agar Cerdas, Sehat dan Awet Muda

1. Membuat Lebih Cerdas

Di RSAB Harapan Kita Jakarta telah dikembangkan terapi musik klasik dan menyanyi untuk ibu hamil dalam Parent Education Program. Hasil dari program terapi yang terpadu dengan senam hamil dan rileksasi itu sungguh menakjubkan.

Berdasarkan pengamatan Psikolog Dra.Iesye Widodo, anak yang lahir dari ibu yang menjalani terapi terbukti mempunyai kecerdasan yang jauh di atas rata-rata serta kecerdasan emosi yang tinggi.

"Ada seorang anak yang sedang bermain. Ketika saya ambil mainannya dan saya letakkan di atas meja yang agak tinggi, ia tidak marah atau menangis. Ia berinisiatif mencari dan mengambil mainan itu," cerita Iesye memberi contoh.

Wanita yang mahir bermain piano ini menunjuk hasil riset di negara maju bahwa bayi yang masih dalam kandungan bisa mendengar suara nyanyian ibunya. Ketika lahir mereka mengenali lagu yang sering dinyanyikan ibunya.

"Seorang ibu bercerita bahwa ia sering menyanyikan lagu Pelangi ketika hamil. Sekarang bila bayi itu menangis, si ibu akan menyanyikan lagu itu dan bayinya akan langsung diam dan bereaksi sesuai irama lagu," tuturnya.

Karena itulah Iesye kini juga bekerjasama dengan pemain harpa kenamaan, Ussy Pieters, di sekolah musik di Kali Malang, Bekasi dalam mengembangkan terapi musik. Di sana ia menjadi konsultan psikologi.

2. Meningkatkan Kesehatan

"Berlatih menyanyi yang baik berarti melatih pernapasan, pengucapan, artikulasi dan keselarasan nada," ucap Ussy Pieters, salah seorang pemain harpa ternama di Indonesia.

Latihan menyanyi, menurut Ussy, menggunakan pernapasan perut dan melibatkan resonansi pada otak, dada dan perut. Latihan ini bermanfaat untuk mengurangi migren dan pusing.

Di sekolah musiknya, penyuka warna merah ini melatih vokal pada berbagai kalangan usia. Anak didiknya yang termuda berusia 2 tahun, dan yang tertua 76 tahun. Murid tertuanya itu seorang wanita yang berlatih menyanyi untuk menyembuhkan penyakit asmanya.

Iesye Widodo menyebutkan bahwa terapi musik dan menyanyi juga bisa meningkatkan kesehatan ibu hamil beserta janinnya. "Ibu hamil menjadi lebih tenang dan kelainan-kelainan pada janin bisa dihindari," terangnya. Rasa sakit saat melahirkan juga bisa berkurang dengan terapi musik dan menyanyi ini karena bayi menjadi lebih tenang.

3. Bikin Awet Muda

Betulkah menyanyi bisa membuat awet muda? Benar, Dr. Hermawan yang juga mendalami masalah anti penuaan di Swiss dan Austria setuju dengan pendapat bahwa menyanyi membuat awet muda.

Para lansia yang menyanyikan lagu-lagu lama akan terbawa ke dalam suasana nostalgia. Suasana ini membuat mereka merasa muda. Perasaan seperti ini akan membuat sel-sel menjadi aktif, regenerasi sel dan sistem hormon berjalan baik.

"Rahasia awet muda adalah selalu merasa muda. Jangan pernah merasa tua. You look what you feel," katanya membuka rahasia. Maka, jangan malu-malu untuk bernyanyi dan bernostalgia biar awet muda.

Karaoke untuk Terapi Stroke

* Baru satu tahun Dr. Hermawan membuka Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi untuk stroke di Kemanggisan, Jakarta Barat. Klinik ini membuka Klub Stroke untuk menampung para pasien pasca stroke

Di klub ini pasien bisa berinteraksi dengan sesama, tenaga medis dan dokter dalam acara senam stroke dan karaoke. Dengan sosialisasi ini diharapkan pasien menjadi lebih percaya diri. "Rasa percaya diri ini penting untuk mendorong pasien agar bersemangat dalam menjalani program penyembuhan," terangnya.

Banyak yang sudah mendapatkan kemajuan dari menyanyi. "Bapak itu sekarang menyetir sendiri dari Bogor ke Jakarta," kata Yohanes, salah seorang instruktur, menunjuk seorang pasien.

Pria itu kelihatan bersemangat mengikuti gerakan senam. Ia dan beberapa pria lain memang sudah beberapa lama mengikuti terapi di klinik itu. Nyaris tak tampak tanda-tanda bahwa mereka pernah terkena serangan stroke.

Suasana menjadi meriah ketika acara karaoke tiba. Dalam kaitan ini Dr. Hermawan sengaja memilih lagu-lagu gembira yang sederhana seperti Burung Kakak Tua dan Dua Mata Saya. "Pasien stroke memang agak kesulitan menyanyikan tangga nada dan mengikuti lagu berirama cepat," kata seorang instruktur memberi alasan. Masing-masing pasien diberi kesempatan memegang corong dan memperdengarkan suaranya.

* Untuk membuktikan secara ilmiah bahwa menyanyi itu menyehatkan, penelitian di University of California, Amerika Serikat mengambil sampel ludah 32 orang anggota paduan suara.

Dari sampel itu kemudian diukur jumlah protein kekebalan tubuh anggota paduan suara sebelum, selama dan sesudah latihan untuk pertunjukan Missa Solemnis Beethoven.

Hasilnya? Immunoglobulin A yang digunakan tubuh untuk membunuh penyakit meningkat 150 persen kadarnya saat latihan. "Yang mengagumkan kadar immunoglobulin ini meningkat menjadi 240 persen setelah latihan," ungkap Robert Beck, salah seorang peneliti. Peningkatan kekebalan tubuh itu akan semakin baik bila menyanyi dilakukan dengan penuh penghayatan.

Lebih jauh Beck meneliti stres yang dialami para penyanyi selama pertunjukan berlangsung. Secara teoritis situasi stres dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan penurunan kekebalan tubuh. Anehnya stres pada saat pertunjukan justru tidak menurunkan kekebalan tubuh. "Para penyanyi menuturkan pengalaman sukses mementaskan pertunjukan paduan suara merupakan puncak di mana mereka merasakan kegembiraan luar biasa, rileksasi, kepuasan dan penurunan stres," demikian bunyi hasil studi Beck.

Mereka merasa sanggup menguasai hal-hal sulit yang dituntut saat latihan dan menikmati kegembiraan waktu tampil di depan publik. Karena itulah kemajuan hasil penelitian setelah pertunjukan sangat mencolok ketimbang waktu latihan.

Sumber: kompas

22 Des 2008

Berikanlah Kami pada Hari Ini Makanan Kami yang Secukupnya

Bapa kami yang di surga dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami
...

Doa Bapa K
ami adalah doa yang sangat dikenal oleh orang Kristen. Doa yang diajarkan oleh Yesus Kristus ini mengajak kita bagaimana untuk hidup dan membangun hubungan dengan benar, baik dengan Tuhan, dengan diri sendiri, maupun dengan orang lain.

Doa Bapa Kami juga mengajarkan kita untuk hidup dengan sehat yaitu, mengenai pola makan yang benar. Kalimat "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" dengan jelas mengajarkan kepada kita mengenai pola makan yang sehat. Makan yang sehat adalah makan yang secukupnya. Disini, secukupnya mengandung arti cukup dari segi kualitas dan kuantitas, tidak kurang dan juga tidak berlebihan. Jika kita makan dengan kurang, tentu akan berakibat tidak baik. Demikian juga dengan makan berlebihan, akibatnya pun juga sangat tidak baik.

Banyak contoh, tokoh-tokoh Kristen seperti pendeta dan juga tokoh yang terkenal lainnya, meninggal dunia dalam usia yang masih muda bukan karena kalah dalam peperangan rohani atau karena serangan Setan, melainkan karena penyakit yang ditimbulkan karena kolesterol, hipertensi, atau serangan jantung, yang timbul karena pola makan yang berlebihan. Sungguh disayangkan bukan? Padahal jika kita mau 'menguasai diri' dalam hal makanan, semua penyakit tersebut tentunya dapat dihindari dan kita dapat hidup lebih lama menikmati berkat dan anugerah Tuhan dlam hidup kita. Ingat, dalam 9 buah Roh di Galatia 5, buah yang terakhir adalah PENGUASAAN DIRI. Ini tidak hanya menyangkut penguasaan diri dalam menjaga panca indera kita dari hal-hal yang berbau dosa, tetapi juga penguasaan diri dalam menjaga nafsu makan kita.

Nah, marilah kita hidup sehat. Mulai makan yang secukupnya dan mengontrol nafsu makan kita. Tidak makan secara berlebihan, termasuk saat menghadiri pesta-pesta atau resepsi-resepsi yang menyajkan makanan yang super lezat.

Amsal 23:1-3 mengatakan "Bila engkau duduk makan dengan seorang pembesar, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di hadapanmu. Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila nafsumu besar. Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu."

Dan menjelang Natal dan Tahun Baru ini, pastikan anda dapat mengendalikan diri dalam pesta-pesta yang anada ikuti.

Selamat Natal,
Selamat Tahun Baru,
Tetap Hidup Sehat

(samleinad)

3 Des 2008

Makanan Sehat yang Jadi “Sampah”

Semua makanan instan itu adalah junk food alias makanan sampah. Itulah yang terpatri di benak kebanyakan orang. Akibat kampanye kesehatan yang dicerna agak miring, otomatis publik menganggap semua makanan instan adalah sampah. Terlebih lagi jika makanan itu berasal dari budaya barat. Iklan memang kadang memberi efek berlebihan pada kehidupan kita. Padahal ada sejumlah makanan yang selintas kita anggap “sampah” justru memiliki kandungan gizi yang masih layak dikonsumsi andai diolah secara baik.

Berikut daftar 10 makanan yang awalnya adalah makanan sehat, tapi setelah terlalu dikomersilkan justru menjadi sampah.

1. Pizza
Bukan hanya kita di Indonesia, bahkan orang Amerika pun menganggap pizza masuk kategori junk food. Bisa jadi akibat bingung dengan iklan di televisi. Padahal di negara asalnya, Italia, ada hukum yang mengatur bagaimana komposisi pizza idealnya dibuat. Ditentukan mulai dari jenis tepungnya, tomat, mozarela, sampai ke minyak zaitunnya. Makanan ini jika diolah sesuai ketentuan merupakan makanan praktis lagi kaya gizi. Sayangnya, mulai banyak pizza yang diolah terlalu komersil sehingga mengandung terlalu banyak lemak, kalori, sodium, namun rendah gizi.

2.Sayuran Organik Komersil.
Awalnya ini adalah ide yang baik. Sejumlah petani memulai gerakan tanaman organik, menghindari pestisida dan pupuk kimia. Mereka menanam dengan cara alamiah.Namun setelah 30 tahun berlalu, produk tanaman organik menjadi kasus. Sejumlah waralaba besar menginginkan profit berlebih. Akibatnya diproduksi makanan sampah organik seperti susu organik, sayuran organik, yang semuanya berlabel. Apakah itu sungguh sehat dikonsumsi, kadang diragukan. Istilah “organik” kerap hanya sebagai label belaka.

3. Sereal.
Di Indonesia kini sarapan pagi yang biasa bermenu nasi uduk atau lontong sayur mulai digeser dengan sereal. Aslinya, sereal yang ideal terbuat atas gandum, oat atau beras. Intinya adalah bahan pangan untuk manusia. Kandungannya adalah protein, lemak sehat dan vitamin. sayang, mulai marak produsen makanan yang menambah bahan gula, sirup jagung, garam, makanan yang dikeringkan dan sejenisnya. Bahan-bahan inilah yang membuat sereal menjadi sampah di tubuh kita.

4. Roti Tawar.
Roti tawar yang berbahaya bagi kesehatan adalah yang mengandung bahan tak sehat. Dan ini justru yang banyak beredar di negara maju seperti AS. Yakni mengandung tepung dengan gula, siruo jagunng, bahkan sejumlah bahan tambahan tak berguna. Kandungannya membuat orang berisiko menderita obesitas dan diabetes sebab sekali dimakan akan langsung dikonversi menjadi gula darah bernama glokosa. Glukosa ini membuat pankreas bekerja keras dan merusak organ sekitar. Roti tawar yang sehat adalah yang terbuat dari tepung dan air dengan sedikit garam dan yeast.

5.Popcorn.
Jangan terlalu ketagihan makan popcorn yang berasa asin dan menggoda. Pada dasarnya bahan jagung itu sehat, mengandung zat besi tinggi, kalori rendah dan sedikit gula, garam dan lemak. Sayang kini justru kandungan gula, lemak dan garamnya sangat luar biasa. Jauh lebih sehat menyiapkan popcorn sendiri di rumah dengan campuran garam dan gula yang terkendali.

6. Kentang Russet.
Ini adalah jenis kentang yang dipakai untuk membuat french fries alias kentang goreng yang kita kenal sebagai camilan lezat. Kentang Russet ukurannya lebih besar dari kentang biasa, juga lebih murah. setelah dianalisa, kentang ini jika dikonsumsi cepat terkonversi menjadi gula darah dan memicu diabetes dan obesitas. Karena rasanya yang hambar, banyak produsen menambahkan gula dan garam ke bahan ini.

7. Teh Hijau
Dipercaya berkhasiat mencegah kanker, teh hijau banyak dikonsumsi di Asia termasuk Indonesia. Teh ini mengandung antioksidan dan komponen lain yang katanya mengurangi risiko kanker, serangan jantung, bahkan membuat awet muda. Kini teh hijau banyak dijual dalam kemasan botol, ditambah beragam rasa agar menarik. Zat seperti gula, bahan penambah rasa dan pengawet justru membuat teh hijau bukan lagi minuman sehat.

8.Sup Kalengan.
Pada dasarnya sup adalah makanan sehat. Itu jika disajikan dalam keadaan segar dengan kandungan sayuran dan komposisi bumbu seimbang. Namun orang kadang lebih suka yang praktis, sehingga membeli sup kalengan. Awalnya sup kalengan juga masih ideal, sayangnya lama-lama produsen hanya memikirkan profit semata. Satu kaleng sup bisa mengandung 100 miligram sodium dan garam berlebihan, serta lemak dan zat kimia lain. Tentu saja bahan-bahan itu jauh dari definisi sehat.

9. Yogurt.
Betul bahwa yogurt makanan sehat yang terbuat dari proses fermentasi bakteri. Proteinnya tinggi, kalsium dan vitaminnya memberi efek bagus pada tubuh. Kelamaan di pasar swalayan banyak dijual yogurt kemasan bermerek. Biasanya mengandung banyak gula dan buah yang diproses, lalu menyamar sebagai makanan sehat.

10. Nuget Ikan
Ikan memang sehat. Maka banyak ditawarkan godaan produk ikan dalam bentuk instan dan konon lezat. Nuget ikan atau ikan yang sudah diolah lalu siap saji cukup dengan menggorengnya kini menggoda kita untuk membeli. Memang praktis, tak perlu membersihkan ikan mentah yang bau amis dan kotor. Jangan salah, ikan jenis ini justru lebih banyak kandungan garam dan lemak. Kalau sudah begitu, pastinya nilai positif ikan sudah nyaris tak tersisa lagi.

Kini pilihan ada di tangan kita sendiri. Mau makanan sehat tapi agak repot, atau praktis namun sudah menjadi sampah?

Sumber: netsains.com

Penyakit Lupus

Seperti yang diungkapkan dalam buku kecil Care for Lupus (Syamsi Dhuha), Lupus adalah sebutan umum dari suatu kelainan yang disebut sebagai Lupus Erythematosus. Dalam istilah sederhana, seseorang dapat dikatakan menderita penyakit Lupus Erythematosus saat tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri. Lupus adalah istilah dari bahasa Latin yang berarti Serigala. Hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki butterfly rash atau ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa di pipi Serigala, tetapi berwarna putih.

Penyakit ini dalam ilmu kedokteran disebut Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada Lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dengan demikian, Lupus disebut sebagai autoimmune disease (penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan).

Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam bentuk, yang pertama yaitu Cutaneus Lupus, seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, Drug Induced Lupus(DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang, dan biasanya odipus (orang hidup dengan lupus)akan menghindari hal-hal yang dapat membuat penyakitnya kambuh dengan :

1. Menghindari stress
2. Menjaga agar tidak langsung terkena sinar matahari
3. mengurangi beban kerja yang berlebihan
4. menghindari pemakaian obat tertentu.

odipus dapat memeriksakaan diri pada dokter2 pemerhati penyakit ini, dokter spesialis penyakit dalam konsultasi hematologi, rheumatology, ginjal, hipertensi, alergi imunologi, jika lupus dapat tertanggulangi, berobat dengan teratur, minum obat teratur yang di berikan oleh dokter (yang biasanya diminum seumur hidup), odipus akan dapat hidup layaknya orang normal.

SUmber: id.wikipedia.org

Apa itu Penyakit LUPUS ?

Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh.

Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh. Istilahnya disebut LES atau Lupus. Gejala-gejala yang umum dijumpai adalah:

1. Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan pencernaan.
2. Gejala umumnya penderita sering merasa lemah, kelelahan yang berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang.
3. Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang disebut (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap Lupus.
4. Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit LUPUS ini
5. Rambut yang sering rontok dan rasa lelah yang berlebihan

Dr. Rahmat Gunadi dari Fak. Kedokteran Unpad/RSHS menjelaskan, penyakit lupus adalah penyakit sistem imunitas di mana jaringan dalam tubuh dianggap benda asing. Reaksi sistem imunitas bisa mengenai berbagai sistem organ tubuh seperti jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler, paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, sistem pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah dan sel-sel darah.

“Penyakit ini dapat mengenai semua lapisan masyarakat, 1-5 orang di antara 100.000 penduduk, bersifat genetik, dapat diturunkan. Wanita lebih sering 6-10 kali daripada pria, terutama pada usia 15-40 tahun. Bangsa Afrika dan Asia lebih rentan dibandingkan kulit putih. Dan tentu saja, keluarga Odapus. Timbulnya penyakit ini karena adanya faktor kepekaan dan faktor pencetus yaitu adanya infeksi, pemakaian obat-obatan, terkena paparan sinar matahari, pemakaian pil KB, dan stres,” ujarnya. Penyakit ini justru kebanyakaan diderita wanita usia produktif sampai usia 50 tahun sekalipun ada juga pria yang mengalaminya. Oleh karena itu dianggap diduga penyakit ini berhubungan dengan hormon estrogen.

Pada kehamilan dari perempuan yang menderita lupus, sering diduga berkaitan dengan kehamilan yang menyebabkan abortus, gangguan perkembangan janin atau pun bayi meninggal saat lahir. Tetapi hal yang berkebalikan juga mungkin atau bahkan memperburuk geja LUPUS. Sering dijumpai gejala Lupus muncul sewaktu hamil atau setelah melahirkan.

Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat. Namun, dalam penyakit ini kekebalan tubuh justru menyerang organ tubuh yang sehat. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi yang berlebih. Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan. Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat. Kelainan ini disebut autoimunitas . Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara yaitu :

Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan selnya akan hancur. Inilah yang mengakibatkan penderitanya kekurangan sel darah merah atau anemia.

Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun.Gabungan antibodi dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan. Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang (fagosit) Tetapi, dalam keadaan abnormal, kompleks ini tidak dapat dibatasi dengan baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil mengeluarkan enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks. Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat sebagai gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang fungsi organ tubuh akan terganggu.

Kesembuhan total dari penyakit ini, tampaknya sulit. Dokter lebih berfokus pada pengobatan yang sifatnya sementara.Lebih difokuskan untuk mencegah meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh.

Sumber: doktersehat.com