Manfaat tomat bagi kulit bukan hanya didapat dengan menggunakannya sebagai lulur atau masker. Dengan memakan 5-6 butir buah ini secara rutin, kulit juga akan semakin sehat dan terlindung dari bahaya sinar ultraviolet penyebab kanker.
Manfaat makan tomat hampir setara dengan menggunakan tabir surya dengan kekuatan Sun Protecting Factor (SPF) 1,3. Relatif kecil untuk dijadikan perlindungan utama, namun cukup besar untuk memaksimalkan efek perlindungan dari cahaya ultraviolet.
Manfaat ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan tim ahli dari beberapa universitas di Manchester dan Newcastle, Inggris. Sebanyak 20 orang partisipan yang memiliki kulit sehat dilibatkan dalam penelitian eksperimental tersebut.
Setiap hari, 10 partisipan diberi saus tomat sebanyak 5 sendok teh (55 gram) atau setara dengan 5-6 butir tomat yang diolah dengan 10 gram minyak zaitun. Sisanya sebanyak 10 partisipan hanya mendapatkan minyak zaitun dan tidak boleh makan tomat.
Di awal penelitian, sensitivitas kulit para partisipan terhadap radiasi ultraviolet (UV) diukur lalu dibandingkan dengan 12 pekan sesudahnya. Hasilnya, partisipan yang setiap hari mendapatkan saus tomat menjadi 33 persen makin terlindung dari sinar UV.
Sinar UV merupakan salah satu pemicu berbagai jenis kerusakan kulit, mulai dari penuaan dini hingga kanker. Sinar ini terdapat di mana saja, namun paling banyak ditemukan pada sinar matahari akibat makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.
Kandungan nutrisi dalam tomat yang bisa menangkal efek sinar UV dari dalam adalah Lycopene, yang berfungsi sebagai antioksidan. Senyawa ini mampu menetralkan radikal bebas yang terbentuk akibat paparan sinar UV dan bisa memicu kerusakan kulit.
Meski makan tomat bisa memberikan efek perlindungan dari dalam, kulit masih tetap harus dilindungi dari luar. Dikutip dari Irishhealth, Senin (9/5/2011), bentuk perlindungan dari luar antara lain dengan menggunakan tabir surya saat akan beraktivitas di bawah terik matahari.
sumber: detikHealth
9 Mei 2011
3 Mei 2011
Lingkar Pinggang Prediksi Kematian
Kegemukan atau obesitas sejak lama telah dikenal sebagai salah faktor risiko penyakit jantung. Para dokter kerap memperhitungkan obesitas dalam menilai risiko seseorang mengidap penyakit jantung.
Obesitas di antaranya dapat diketahui dengan melakukan pengukuran BMI (body mass index). Ini adalah pengukuran sederhana dengan cara membagi nilai tinggi badan dengan ukuran berat yang dipangkatkan. Semakin besar skor BMI seseorang, semakin besar kemungkinannya masuk dalam kategori obesitas.
Sejumlah penelitian mengindikasikan, tingginya skor BMI berkaitan dengan risiko lebih rendah meninggal akibat sakit jantung atau akibat penyakit kronis. Ini merupakan fenomena misterius yang dikenal dengan istilah "paradoks obesitas"
Menurut analisa para ahli yang dimuat Journal of the American College of Cardiology, paradoks ini tampaknya dapat dijelaskan dengan fakta sederhana bahwa BMI tidaklah cukup akurat untuk mengukur risiko yang berkaitan dengan penyakit jantung. Ukuran lingkar pinggang, kata para ahli, justru dapat memberi petunjuk yang lebih akurat dalam memprediksi risiko kematian pasien jantung akibat serangan di usia muda atau pun penyebab lainnya.
Dalam sebuah penelitian para ahli di Mayo Clinic Rochester, Minnesota AS, pasien penyakit jantung dengan ukuran lingkar pinggang lebih besar dari 35 inci pada wanita atau 40 inci pada pria, memiliki 70 persen risiko lebih besar meninggal lebih cepat selama ketimbang yang lingkar pinggangnya lebih kecil. Ukuran lingkar pinggang yang besar dikombinasikan dengan tingginya skor BMI bahkan membuat risiko kematian jauh lebih besar.
"Hal paling penting dibandingkan yang lain kemungkinannya adalah distribusi lemak," kata peneliti Francisco Lopez-Jimenez, M.D., peneliti yang juga ahli jantung di Mayo Clinic Rochester.
Penelitian terbaru ini menyediakan bukti lain bahwa BMI punya banyak keterbatasan dalam menilai risiko penyakit jantung, kata Jean-Pierre Després, Ph.D., direktur riset di Quebec Heart and Lung Institute, Laval University, Quebec City.
"Jika Anda mengukur BMI, Anda tidak akan menilai bentuk tubuh, Anda tidak melihat distribusi lemak ," kata Després, yang menulis sebuah editorial yang menyertai laporan riset ini.
"Saya tidak mengatakan bahwa BMI tak berguna. Hanya saja, kita perlu yang lebih dari itu. BMI adalah total kolesterol dalam lemak. Kita tahu bahwa ada kolesterol yang baik dan kolesterol buruk, ada lemak jahat dan lemak baik."
Selain itu, lanjut Despres, BMI juga tidak dapat membedakan antara lemak dan otot. Pasien jantung yang menjalani gaya hidup sedentari atau kurang aktif mungkin mencatat BMI yang rendah karena mereka kehilangan massa otot, paparnya, sedangkan pasien jantung yang memiliki gaya hidup aktif mungkin akan mengalami penambahan berat dan peningkatan BMI karena mereka menambah otot tak berlemak.
Hasil temuan ini juga memicu perdebatan seputar bentuk tubuh dan risiko mengidap penyakit jantung. Beberapa penelitian lain mengindikasikan, mereka yang memiliki tubuh apel dengan timbunan lemak di daerah perut berisiko lebih besar mengidap sakit jantung dibanding mereka yang tubuhnya berbentuk pir. Namun teori ini dipertanyakan oleh para ahli.
Lopez-Jimenez dan timnya menganalisis data sekitar 16,000 pasien jantung yang berpartisipasi dalam satu dari empat studi dan program rehabilitasi jantung di Mayo Clinic. Lebih dari sepertiga pasien tercatat meninggal selama penelitian, dengan rentang waktu antara enam bulan hingga tujuh tahun.
Tingginya nilai BMI berkaitan dengan 35 persen risiko lebih rendah mengalami kematian, tetapi memiliki lingkar pinggang yang besar ditambah dengan tingginya nilai BMI membuat risiko kematian melonjak hingga dua kali lipat.
Kenapa lemak di perut begitu jahat? Peneliti menjelaskan bahwa lemak perut adalah tanda dari lemak visceral atau lemak yang berkumpul di sekitar organ-organ di abdomen atau perut. Lemak-lemak inilah yang dapat memicu resistensi insulin dan meningkatnya jumlah kolesterol jahat selain juga dapat merangsang peradangan.
Faktor genetik memainkan peran sangat kuat dalam menentukan apakah seseorang dapat menimbun lemak pada sekitar pinggang, kata Després. Ia memperkirakan sekitar 30 persen populasi memiliki kecenderungan menimbun lemak pada tempat yang tidak diiinginkan tersebut.
sumber: kompas
Obesitas di antaranya dapat diketahui dengan melakukan pengukuran BMI (body mass index). Ini adalah pengukuran sederhana dengan cara membagi nilai tinggi badan dengan ukuran berat yang dipangkatkan. Semakin besar skor BMI seseorang, semakin besar kemungkinannya masuk dalam kategori obesitas.
Sejumlah penelitian mengindikasikan, tingginya skor BMI berkaitan dengan risiko lebih rendah meninggal akibat sakit jantung atau akibat penyakit kronis. Ini merupakan fenomena misterius yang dikenal dengan istilah "paradoks obesitas"
Menurut analisa para ahli yang dimuat Journal of the American College of Cardiology, paradoks ini tampaknya dapat dijelaskan dengan fakta sederhana bahwa BMI tidaklah cukup akurat untuk mengukur risiko yang berkaitan dengan penyakit jantung. Ukuran lingkar pinggang, kata para ahli, justru dapat memberi petunjuk yang lebih akurat dalam memprediksi risiko kematian pasien jantung akibat serangan di usia muda atau pun penyebab lainnya.
Dalam sebuah penelitian para ahli di Mayo Clinic Rochester, Minnesota AS, pasien penyakit jantung dengan ukuran lingkar pinggang lebih besar dari 35 inci pada wanita atau 40 inci pada pria, memiliki 70 persen risiko lebih besar meninggal lebih cepat selama ketimbang yang lingkar pinggangnya lebih kecil. Ukuran lingkar pinggang yang besar dikombinasikan dengan tingginya skor BMI bahkan membuat risiko kematian jauh lebih besar.
"Hal paling penting dibandingkan yang lain kemungkinannya adalah distribusi lemak," kata peneliti Francisco Lopez-Jimenez, M.D., peneliti yang juga ahli jantung di Mayo Clinic Rochester.
Penelitian terbaru ini menyediakan bukti lain bahwa BMI punya banyak keterbatasan dalam menilai risiko penyakit jantung, kata Jean-Pierre Després, Ph.D., direktur riset di Quebec Heart and Lung Institute, Laval University, Quebec City.
"Jika Anda mengukur BMI, Anda tidak akan menilai bentuk tubuh, Anda tidak melihat distribusi lemak ," kata Després, yang menulis sebuah editorial yang menyertai laporan riset ini.
"Saya tidak mengatakan bahwa BMI tak berguna. Hanya saja, kita perlu yang lebih dari itu. BMI adalah total kolesterol dalam lemak. Kita tahu bahwa ada kolesterol yang baik dan kolesterol buruk, ada lemak jahat dan lemak baik."
Selain itu, lanjut Despres, BMI juga tidak dapat membedakan antara lemak dan otot. Pasien jantung yang menjalani gaya hidup sedentari atau kurang aktif mungkin mencatat BMI yang rendah karena mereka kehilangan massa otot, paparnya, sedangkan pasien jantung yang memiliki gaya hidup aktif mungkin akan mengalami penambahan berat dan peningkatan BMI karena mereka menambah otot tak berlemak.
Hasil temuan ini juga memicu perdebatan seputar bentuk tubuh dan risiko mengidap penyakit jantung. Beberapa penelitian lain mengindikasikan, mereka yang memiliki tubuh apel dengan timbunan lemak di daerah perut berisiko lebih besar mengidap sakit jantung dibanding mereka yang tubuhnya berbentuk pir. Namun teori ini dipertanyakan oleh para ahli.
Lopez-Jimenez dan timnya menganalisis data sekitar 16,000 pasien jantung yang berpartisipasi dalam satu dari empat studi dan program rehabilitasi jantung di Mayo Clinic. Lebih dari sepertiga pasien tercatat meninggal selama penelitian, dengan rentang waktu antara enam bulan hingga tujuh tahun.
Tingginya nilai BMI berkaitan dengan 35 persen risiko lebih rendah mengalami kematian, tetapi memiliki lingkar pinggang yang besar ditambah dengan tingginya nilai BMI membuat risiko kematian melonjak hingga dua kali lipat.
Kenapa lemak di perut begitu jahat? Peneliti menjelaskan bahwa lemak perut adalah tanda dari lemak visceral atau lemak yang berkumpul di sekitar organ-organ di abdomen atau perut. Lemak-lemak inilah yang dapat memicu resistensi insulin dan meningkatnya jumlah kolesterol jahat selain juga dapat merangsang peradangan.
Faktor genetik memainkan peran sangat kuat dalam menentukan apakah seseorang dapat menimbun lemak pada sekitar pinggang, kata Després. Ia memperkirakan sekitar 30 persen populasi memiliki kecenderungan menimbun lemak pada tempat yang tidak diiinginkan tersebut.
sumber: kompas
27 Apr 2011
Kopi Tak Terbukti Naikkan Tensi
Kafein yang terdapat di dalam kopi selama ini sering dituding sebagai penyebab naiknya tensi darah. Meski belum mendapat kesimpulan akhir, namun penelitian terbaru menunjukkan minum kopi tidak terbukti meningkatkan tensi.
Laporan studi terbaru yang dimuat dalam The American Journal of Clinical Nutrition ini dibuat setelah menghimpun data dari enam penelitian yang melibatkan 170.000 orang. Dalam masing-masing penelitian, dilakukan survei untuk mengetahui jumlah kopi yang diminum setiap hari kemudian riwayat kesehatan para responden diikuti hingga 33 tahun.
Sekitar satu dari lima partisipan menderita hipertensi. Akan tetapi tidak ada perbedaan risiko antara mereka yang minum lima cangkir kopi per hari dengan orang yang hanya minum sedikit. Meski begitu minum kopi bukan berarti bebas dari risiko sama sekali.
Hasil penelitian juga menemukan risiko terkena hipertensi antara mereka yang minum kopi 3 cangkir per hari dengan yang minum kurang dari jumlah tersebut hanya berbeda sedikit.
"Saya tidak yakin kopi adalah faktor risiko hipertesi. Akan tetapi jika orang minum kopi 12 cangkir setiap hari dan tidak bisa tidur, maka itu adalah hal yang perlu diwaspadai," kata Dr.Lawrence Krakoff, peneliti bidang hipertensi dari Mount Sinai Medical Center, New York, AS.
Kaitan antara kopi dengan hipertensi sendiri sangat rumit dan mungkin efeknya tidak sama pada setiap orang. "Perbedaan genetik mungkin berpengaruh pada efek kafein yang diasup. Untuk sebagian orang tidak ada pengaruh minum kopi banyak," kata Dr.Liwei Chen, peneliti.
sumber: kompas
Laporan studi terbaru yang dimuat dalam The American Journal of Clinical Nutrition ini dibuat setelah menghimpun data dari enam penelitian yang melibatkan 170.000 orang. Dalam masing-masing penelitian, dilakukan survei untuk mengetahui jumlah kopi yang diminum setiap hari kemudian riwayat kesehatan para responden diikuti hingga 33 tahun.
Sekitar satu dari lima partisipan menderita hipertensi. Akan tetapi tidak ada perbedaan risiko antara mereka yang minum lima cangkir kopi per hari dengan orang yang hanya minum sedikit. Meski begitu minum kopi bukan berarti bebas dari risiko sama sekali.
Hasil penelitian juga menemukan risiko terkena hipertensi antara mereka yang minum kopi 3 cangkir per hari dengan yang minum kurang dari jumlah tersebut hanya berbeda sedikit.
"Saya tidak yakin kopi adalah faktor risiko hipertesi. Akan tetapi jika orang minum kopi 12 cangkir setiap hari dan tidak bisa tidur, maka itu adalah hal yang perlu diwaspadai," kata Dr.Lawrence Krakoff, peneliti bidang hipertensi dari Mount Sinai Medical Center, New York, AS.
Kaitan antara kopi dengan hipertensi sendiri sangat rumit dan mungkin efeknya tidak sama pada setiap orang. "Perbedaan genetik mungkin berpengaruh pada efek kafein yang diasup. Untuk sebagian orang tidak ada pengaruh minum kopi banyak," kata Dr.Liwei Chen, peneliti.
sumber: kompas
21 Apr 2011
Serba-serbi Insomnia
Istilah insomnia sering kita dengar, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Namun apakah sudah benar-benar dipahami. Lalu apa sebenarnya insomnia itu?
"Insomnia adalah kesulitan memulai atau mempertahankan tidur dan merupakan gangguan tidur yang paling banyak dialami manusia," ujar dr. Andri, Sp. KJ, psikiater di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang. Ia menambahkan, penelitian terbaru menunjukkan 30-45% orang dewasa di seluruh dunia mengalami insomnia. Sementara sumber lain memperkirakan ada 28 juta penderita insomnia di Indonesia.
Ada dua jenis insomnia yang biasa ditemui yaitu transient insomnia (insomnia sesaat) dan persistent insomnia (insomnia menetap). Insomnia sesaat biasanya disebabkan karena rasa kehilangan, rasa berduka, perubahan kehidupan dan stres fisik maupun mental. Menurut Andri, kondisi seperti ini biasanya tidak berbahaya.
Sedangkan ciri insomnia menetap biasanya ditandai dengan kesulitan memulai tidur yang umumnya disebabkan kecemasan atau ketegangan somatik/fisik. Pikiran yang terus berkecamuk menjelang tidur menjadi pemicu timbulnya kondisi ini. "Insomnia jenis ini biasanya terjadi jika terdapat masalah di kantor atau di rumah yang menimbulkan stres," kata Andri. Meski demikian, sebagian penderita insomnia ini bisa sembuh dengan jalan menikmati liburan.
Gejala gangguan tidur ini mudah dikenali. Apabila seseorang sulit untuk mulai tidur atau sulit untuk mempertahankan tidur, bisa jadi ia menderita insomnia. Kesulitan memulai tidur dapat disebabkan kondisi medis (rasa nyeri atau tidak nyaman yang ditimbulkan oleh sakit, adanya luka di sistem saraf pusat otak seperti pada pasien stroke) atau karena gangguan kejiwaan atau lingkungan (gangguan kecemasan, perubahan lingkungan, tekanan ketika akan menghadapi suatu peristiwa penting seperti akan menghadapi ujian).
Penderita insomnia yang sulit mempertahankan tidurnya juga bisa disebabkan oleh kondisi medis seperti sindrom henti napas saat tidur (sleep apnea), ada penyakit infeksi, rasa nyeri dan tidak nyaman karena penyakit, serta konsumsi alkohol yang berlebihan. Sementara depresi, skizofrenia, gangguan stres pasca trauma, gangguan siklus sirkadian, dan perubahan lingkungan merupakan kondisi kejiwaan dan lingkungan yang menyebabkan penderita insomnia sulit mempertahankan tidurnya.
Agar terhindar dari insomnia, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan. "Biasakan diri untuk tidur pada jam yang sama setiap malam," saran Andri. Ini penting untuk menjaga jam biologis tubuh tetap teratur. Sebab jam biologis tubuh selalu beradaptasi terhadap kebiasaan tidur seseorang. Sehingga jika seseorang yang biasa tidur jam 9 malam mengubah waktu tidurnya ke jam 12 malam, maka jam biologisnya akan ikut menyesuaikan dan ia tidak akan mengantuk pada jam 9 malam seperti sebelumnya.
Sementara para penderita insomnia dapat mengatasinya dengan menjaga kesehatan tidur dengan menjaga kebersihan tempat tidur, tidak melakukan aktivitas berat sebelum tidur, memakai pakaian yang cukup longgar dan nyaman dipakai, dan meredupkan atau mematikan lampu kamar saat akan tidur. Penggunaan obat pun bisa menjadi salah satu opsi yang bisa diambil. "Asalkan dilakukan dengan kondisi yang ditetapkan oleh dokter," ujar Andri.
sumber: national geographic indonesia
"Insomnia adalah kesulitan memulai atau mempertahankan tidur dan merupakan gangguan tidur yang paling banyak dialami manusia," ujar dr. Andri, Sp. KJ, psikiater di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang. Ia menambahkan, penelitian terbaru menunjukkan 30-45% orang dewasa di seluruh dunia mengalami insomnia. Sementara sumber lain memperkirakan ada 28 juta penderita insomnia di Indonesia.
Ada dua jenis insomnia yang biasa ditemui yaitu transient insomnia (insomnia sesaat) dan persistent insomnia (insomnia menetap). Insomnia sesaat biasanya disebabkan karena rasa kehilangan, rasa berduka, perubahan kehidupan dan stres fisik maupun mental. Menurut Andri, kondisi seperti ini biasanya tidak berbahaya.
Sedangkan ciri insomnia menetap biasanya ditandai dengan kesulitan memulai tidur yang umumnya disebabkan kecemasan atau ketegangan somatik/fisik. Pikiran yang terus berkecamuk menjelang tidur menjadi pemicu timbulnya kondisi ini. "Insomnia jenis ini biasanya terjadi jika terdapat masalah di kantor atau di rumah yang menimbulkan stres," kata Andri. Meski demikian, sebagian penderita insomnia ini bisa sembuh dengan jalan menikmati liburan.
Gejala gangguan tidur ini mudah dikenali. Apabila seseorang sulit untuk mulai tidur atau sulit untuk mempertahankan tidur, bisa jadi ia menderita insomnia. Kesulitan memulai tidur dapat disebabkan kondisi medis (rasa nyeri atau tidak nyaman yang ditimbulkan oleh sakit, adanya luka di sistem saraf pusat otak seperti pada pasien stroke) atau karena gangguan kejiwaan atau lingkungan (gangguan kecemasan, perubahan lingkungan, tekanan ketika akan menghadapi suatu peristiwa penting seperti akan menghadapi ujian).
Penderita insomnia yang sulit mempertahankan tidurnya juga bisa disebabkan oleh kondisi medis seperti sindrom henti napas saat tidur (sleep apnea), ada penyakit infeksi, rasa nyeri dan tidak nyaman karena penyakit, serta konsumsi alkohol yang berlebihan. Sementara depresi, skizofrenia, gangguan stres pasca trauma, gangguan siklus sirkadian, dan perubahan lingkungan merupakan kondisi kejiwaan dan lingkungan yang menyebabkan penderita insomnia sulit mempertahankan tidurnya.
Agar terhindar dari insomnia, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan. "Biasakan diri untuk tidur pada jam yang sama setiap malam," saran Andri. Ini penting untuk menjaga jam biologis tubuh tetap teratur. Sebab jam biologis tubuh selalu beradaptasi terhadap kebiasaan tidur seseorang. Sehingga jika seseorang yang biasa tidur jam 9 malam mengubah waktu tidurnya ke jam 12 malam, maka jam biologisnya akan ikut menyesuaikan dan ia tidak akan mengantuk pada jam 9 malam seperti sebelumnya.
Sementara para penderita insomnia dapat mengatasinya dengan menjaga kesehatan tidur dengan menjaga kebersihan tempat tidur, tidak melakukan aktivitas berat sebelum tidur, memakai pakaian yang cukup longgar dan nyaman dipakai, dan meredupkan atau mematikan lampu kamar saat akan tidur. Penggunaan obat pun bisa menjadi salah satu opsi yang bisa diambil. "Asalkan dilakukan dengan kondisi yang ditetapkan oleh dokter," ujar Andri.
sumber: national geographic indonesia
20 Apr 2011
Rambutan Perbaiki Kesuburan Pria
Rambutan kaya vitamin C dan antioksidan. Selain mampu menangkal kanker, mengurangi katarak, dan mencegah penuaan, rambutan juga bisa meningkatkan kesuburan pria.
Buah rambutan dikenal sebagai buah yang sangat eksotis. Ciri khas buah ini, seluruh permukaannya diselimuti rambut-rambut kaku. Daging buahnya berwarna putih, menyelimuti biji berbentuk bulat lonjong. Rambutan yang lezat adalah yang rasanya manis, daging buahnya tebal, dan mudah dikelupas dari bijinya.
Rambutan (Nephelium lappaceum Linn) merupakan tanaman buah yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin. Tanaman rambutan juga ditemukan di daratan yang beriklim subtropis.
Rambutan biasanya dikonsumsi secara langsung, yaitu dinikmati sebagai buah segar. Buah rambutan juga dapat diolah menjadi manisan, buah dalam kaleng, campuran koktail, dessert, atau salad buah. Tidak hanya daging buahnya, bijinya pun dapat dimanfaatkan. Di Filipina, biji buah rambutan biasanya dipanggang dan disajikan sebagai lauk. Biji buah rambutan terkenal dengan kandungan tannin dan saponinnya yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
Sumber Vitamin, Mineral, Serat, dan Gula
Rambutan merupakan sumber vitamin C yang sangat baik. Buah rambutan tergolong buah berkadar vitamin C tinggi, satu kelas dengan jeruk yang telah lebih dulu dikenal luas sebagai sumber vitamin C.
Rambutan yang berasal dari jenis aceh kering manis merupakan sumber vitamin C yang paling baik, yaitu mencapai 71,24 mg per 100 g daging buah yang dapat dimakan, yang berarti telah memenuhi 118,7 persen kebutuhan tubuh akan vitamin C setiap hari.
Selain vitamin C, buah rambutan juga mengandung vitamin lainnya, seperti niacin, thiamin, dan riboflavin. Mineral yang banyak terkandung pada rambutan adalah kalium, kalsium, besi, dan fosfor. Kandungan serat pangannya juga cukup tinggi, yaitu 2,8 g per 100 g daging buah.
Buah rambutan mengandung berbagai jenis gula. Jenis dan kadar gula per 100 g daging buah adalah glukosa (2,8 g), fruktosa (3,0 g), dan sukrosa (9,9 g). Selain itu, buah rambutan juga mengandung asam, seperti asam malat dan asam sitrat, masing-masing dengan kadar 0,05 dan 0,31 g per 100 g. Kombinasi gula dan asam tersebutlah yang menyebabkan rambutan memiliki rasa manis yang segar.
Tingkatkan Kualitas Sperma dan Antikanker
Vitamin C dikenal sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam berbagai proses penting, mulai dari pembuatan kolagen (protein berserat yang membentuk jaringan ikat pada tulang), pengangkut lemak, pengangkut elektron dari berbagai reaksi enzimatik, pemacu gusi yang sehat, pengatur tingkat kolesterol, serta pemacu sistem kekebalan tubuh.
Makanan yang kaya akan vitamin C akan sangat membantu untuk mencegah berbagai jenis kanker, di antaranya kanker paru-paru, kolon, pankreas, kandung kemih, dan payudara. Vitamin C juga dapat mengurangi radikal bebas yang merupakan pencetus kanker, sebab vitamin ini merupakan antioksidan yang baik. Vitamin C juga sangat esensial untuk pembentukan sperma.
Kekurangan vitamin C pada pria dapat menghambat dalam memperoleh keturunan. Perbaikan untuk hal ini memerlukan waktu satu bulan dengan meningkatkan konsumsi vitamin C sebanyak 500 miligram. Kualitas dan kuantitas sperma serta aktivitasnya dapat ditingkatkan dengan menambah konsumsi vitamin C.
Manfaat lain dari vitamin C mengurangi risiko katarak, memperkuat dinding kapiler darah, dan memperkecil risiko penyakit jantung. Peneliti percaya bahwa vitamin C juga dapat menghambat penuaan dengan memperbarui sel-sel darah putih.
Kadar vitamin C beberapa varietas rambutan
Jenis rambutan - Kadar vitamin C (mg/100 g daging buah) :
Aceh kering manis 71,24
Lebak bulus - 56,68
Silengkeng - 49,82
Aceh pao-pao - 42,62
Sinyonya - 40,63
Aceh garing - 39,00
Aceh 6B- 38,51
Aceh padang bulan - 38,00
Biji- 37,43
Aceh gundul - 34,10
Aceh kuning - 31,75
Sitangkuebb-b29,00
Simacan - 27,80
Binjai - 22,34
Aceh gendut - 20,80
Aceh rapiah - 20,71
Sumber: Baga Kalie et al (1989)
Prof. DR. Made Astawan
Dosen Departemen Teknologi Pangan Dan Gizi IPB
sumber: kompas.com
Buah rambutan dikenal sebagai buah yang sangat eksotis. Ciri khas buah ini, seluruh permukaannya diselimuti rambut-rambut kaku. Daging buahnya berwarna putih, menyelimuti biji berbentuk bulat lonjong. Rambutan yang lezat adalah yang rasanya manis, daging buahnya tebal, dan mudah dikelupas dari bijinya.
Rambutan (Nephelium lappaceum Linn) merupakan tanaman buah yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin. Tanaman rambutan juga ditemukan di daratan yang beriklim subtropis.
Rambutan biasanya dikonsumsi secara langsung, yaitu dinikmati sebagai buah segar. Buah rambutan juga dapat diolah menjadi manisan, buah dalam kaleng, campuran koktail, dessert, atau salad buah. Tidak hanya daging buahnya, bijinya pun dapat dimanfaatkan. Di Filipina, biji buah rambutan biasanya dipanggang dan disajikan sebagai lauk. Biji buah rambutan terkenal dengan kandungan tannin dan saponinnya yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
Sumber Vitamin, Mineral, Serat, dan Gula
Rambutan merupakan sumber vitamin C yang sangat baik. Buah rambutan tergolong buah berkadar vitamin C tinggi, satu kelas dengan jeruk yang telah lebih dulu dikenal luas sebagai sumber vitamin C.
Rambutan yang berasal dari jenis aceh kering manis merupakan sumber vitamin C yang paling baik, yaitu mencapai 71,24 mg per 100 g daging buah yang dapat dimakan, yang berarti telah memenuhi 118,7 persen kebutuhan tubuh akan vitamin C setiap hari.
Selain vitamin C, buah rambutan juga mengandung vitamin lainnya, seperti niacin, thiamin, dan riboflavin. Mineral yang banyak terkandung pada rambutan adalah kalium, kalsium, besi, dan fosfor. Kandungan serat pangannya juga cukup tinggi, yaitu 2,8 g per 100 g daging buah.
Buah rambutan mengandung berbagai jenis gula. Jenis dan kadar gula per 100 g daging buah adalah glukosa (2,8 g), fruktosa (3,0 g), dan sukrosa (9,9 g). Selain itu, buah rambutan juga mengandung asam, seperti asam malat dan asam sitrat, masing-masing dengan kadar 0,05 dan 0,31 g per 100 g. Kombinasi gula dan asam tersebutlah yang menyebabkan rambutan memiliki rasa manis yang segar.
Tingkatkan Kualitas Sperma dan Antikanker
Vitamin C dikenal sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam berbagai proses penting, mulai dari pembuatan kolagen (protein berserat yang membentuk jaringan ikat pada tulang), pengangkut lemak, pengangkut elektron dari berbagai reaksi enzimatik, pemacu gusi yang sehat, pengatur tingkat kolesterol, serta pemacu sistem kekebalan tubuh.
Makanan yang kaya akan vitamin C akan sangat membantu untuk mencegah berbagai jenis kanker, di antaranya kanker paru-paru, kolon, pankreas, kandung kemih, dan payudara. Vitamin C juga dapat mengurangi radikal bebas yang merupakan pencetus kanker, sebab vitamin ini merupakan antioksidan yang baik. Vitamin C juga sangat esensial untuk pembentukan sperma.
Kekurangan vitamin C pada pria dapat menghambat dalam memperoleh keturunan. Perbaikan untuk hal ini memerlukan waktu satu bulan dengan meningkatkan konsumsi vitamin C sebanyak 500 miligram. Kualitas dan kuantitas sperma serta aktivitasnya dapat ditingkatkan dengan menambah konsumsi vitamin C.
Manfaat lain dari vitamin C mengurangi risiko katarak, memperkuat dinding kapiler darah, dan memperkecil risiko penyakit jantung. Peneliti percaya bahwa vitamin C juga dapat menghambat penuaan dengan memperbarui sel-sel darah putih.
Kadar vitamin C beberapa varietas rambutan
Jenis rambutan - Kadar vitamin C (mg/100 g daging buah) :
Aceh kering manis 71,24
Lebak bulus - 56,68
Silengkeng - 49,82
Aceh pao-pao - 42,62
Sinyonya - 40,63
Aceh garing - 39,00
Aceh 6B- 38,51
Aceh padang bulan - 38,00
Biji- 37,43
Aceh gundul - 34,10
Aceh kuning - 31,75
Sitangkuebb-b29,00
Simacan - 27,80
Binjai - 22,34
Aceh gendut - 20,80
Aceh rapiah - 20,71
Sumber: Baga Kalie et al (1989)
Prof. DR. Made Astawan
Dosen Departemen Teknologi Pangan Dan Gizi IPB
sumber: kompas.com
19 Apr 2011
Lupus: Saat Sistem Kekebalan Kacau
Pada sebagian orang, sistem kekebalan yang berfungsi melindungi tubuh dari kuman mengalami kekacauan. Zat antibodi yang seharusnya melindungi justru menyerang organ tubuh sendiri. Kelainan ini dikenal sebagai penyakit otoimun. Salah satunya, lupus.
Lupus adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh tidak bisa mengenali mana teman mana lawan sehingga merusak tubuh sendiri,” kata Zubairi Djoerban, Guru Besar Hematologi dan Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta. Karena zat antibodi ada di dalam darah, lupus bisa merusak bagian tubuh yang mendapat pasokan darah mulai dari kulit hingga organ vital, seperti jantung, paru, ginjal, otak, bahkan darah sendiri.
Lupus sulit dideteksi karena tidak memiliki gejala yang spesifik. Gejala yang muncul tergantung pada bagian tubuh yang diserang. Karena itu, penderita lupus datang ke dokter dengan keluhan berbeda-beda.
Misalnya, seorang penderita lupus perempuan datang ke dokter dengan kondisi perut gendut, mata bengkak, dan tubuh lemas. Pasien lain mengalami demam berkepanjangan dan rambut rontok. Sebagian lagi menderita sakit kepala hebat, nyeri di persendian, dan keguguran berulang. Karena muncul dengan beragam gejala, lupus kerap disebut ”penyakit seribu wajah”.
”Menegakkan diagnosis lupus adalah tantangan terbesar bagi dokter,” kata Zubairi.
Dokter bisa terkecoh bila tidak teliti mengamati pasien. Pasien yang datang dengan demam berkepanjangan dan rambut rontok, misalnya, bisa didiagnosis sakit tipus atau sakit lain, sementara lupusnya tidak terdeteksi.
Serangan antibodi menyebabkan peradangan pada organ yang terkena. Dilihat dari luasnya dampak peradangan, lupus bisa dibedakan menjadi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan Discoid Lupus Erythematosus (DLE).
SLE menyebabkan komplikasi karena kerusakan terjadi di banyak tempat. Bila komplikasinya parah, bisa menyebabkan kematian. Sejak tahun 2010, kasus lupus ginjal menjadi penyebab kematian terbanyak dibandingkan kasus lupus lain.
Adapun DLE adalah lupus yang bersifat lokal, hanya terjadi di satu tempat. Biasanya DLE menyerang kulit, terutama di bagian wajah membentuk pola khas seperti kupu-kupu. Kulit mengalami ruam merah dan kasar. Karena pola ini, banyak gerakan penderita lupus di dunia menggunakan simbol kupu-kupu.
Lupus bisa dialami siapa saja. Namun, lupus lebih banyak dialami perempuan, terutama berusia produktif, 15-45 tahun. Sebanyak 90 persen penderita lupus adalah perempuan.
Menurut Dian Syarief, penderita lupus yang aktif menyosialisasikan lupus melalui yayasannya, Syamsi Dhuha Foundation, ahli memperkirakan hormon estrogen bisa memicu lupus. Faktor lain yang bisa mencetuskan lupus adalah sinar ultraviolet, obat-obatan terutama golongan sulfa, serta faktor keturunan. Lupus bersifat kambuhan. Biasanya menyerang kala tubuh kelelahan dan stres.
Dapat diobati
Meski berbahaya, kalau terdeteksi sejak dini, lupus bisa dikendalikan dengan obat-obatan. Menurut Zubairi, hanya sekitar 5-10 persen penderita yang meninggal akibat lupus tidak terdeteksi dengan baik.
Di Indonesia, menurut Zubairi, jumlah penderita lupus sekitar 10.400 orang. Namun, angka itu ibarat puncak gunung es, hanya kelihatan sebagian saja. Jumlah penderita lupus sesungguhnya bisa jauh lebih banyak. Diperkirakan lebih dari 1,5 juta penderita lupus di Indonesia.
Perkiraan itu berdasarkan data jumlah penderita lupus di Amerika yang mencapai 1,5 juta orang dari 300 juta penduduk Amerika. Jumlah penduduk Indonesia, hampir sama, yaitu 240 juta. Menurut banyak penelitian, angka kejadian lupus di Asia dua kali lebih tinggi dibandingkan Amerika dan Eropa.
Obat-obatan yang terbukti bermanfaat meredam gejala lupus adalah golongan kortikosteroid dan obat antimalaria. Menurut hasil penelitian dari 34 pusat penelitian di sembilan negara, obat antimalaria terbukti mengurangi kerusakan organ tubuh dan kematian. Obat lupus bekerja dengan cara menekan kekebalan tubuh.
”Sebagian besar penderita lupus dapat diobati dan bisa bekerja normal,” kata Zubairi.
Sayangnya, menurut Dian, banyak penderita tidak paham tentang lupus sehingga sembarangan meminum obat.
Penderita lupus tetap bisa produktif, walau sering mengalami kelelahan ekstrem. Kondisi itu bisa dipulihkan dengan istirahat total beberapa hari.
Kegiatan luar ruang diperbolehkan, tetapi penderita perlu menghindari paparan sinar matahari agar lupus tidak kambuh.
Olahraga yang direkomendasikan dokter untuk penderita lupus ringan dalam menjaga kebugaran adalah berenang dan senam tai chi. Jenis olahraga ini tidak terlalu membebani persendian karena biasanya penderita lupus banyak mengalami peradangan sendi.
sumber: kompas
Lupus adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh tidak bisa mengenali mana teman mana lawan sehingga merusak tubuh sendiri,” kata Zubairi Djoerban, Guru Besar Hematologi dan Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta. Karena zat antibodi ada di dalam darah, lupus bisa merusak bagian tubuh yang mendapat pasokan darah mulai dari kulit hingga organ vital, seperti jantung, paru, ginjal, otak, bahkan darah sendiri.
Lupus sulit dideteksi karena tidak memiliki gejala yang spesifik. Gejala yang muncul tergantung pada bagian tubuh yang diserang. Karena itu, penderita lupus datang ke dokter dengan keluhan berbeda-beda.
Misalnya, seorang penderita lupus perempuan datang ke dokter dengan kondisi perut gendut, mata bengkak, dan tubuh lemas. Pasien lain mengalami demam berkepanjangan dan rambut rontok. Sebagian lagi menderita sakit kepala hebat, nyeri di persendian, dan keguguran berulang. Karena muncul dengan beragam gejala, lupus kerap disebut ”penyakit seribu wajah”.
”Menegakkan diagnosis lupus adalah tantangan terbesar bagi dokter,” kata Zubairi.
Dokter bisa terkecoh bila tidak teliti mengamati pasien. Pasien yang datang dengan demam berkepanjangan dan rambut rontok, misalnya, bisa didiagnosis sakit tipus atau sakit lain, sementara lupusnya tidak terdeteksi.
Serangan antibodi menyebabkan peradangan pada organ yang terkena. Dilihat dari luasnya dampak peradangan, lupus bisa dibedakan menjadi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan Discoid Lupus Erythematosus (DLE).
SLE menyebabkan komplikasi karena kerusakan terjadi di banyak tempat. Bila komplikasinya parah, bisa menyebabkan kematian. Sejak tahun 2010, kasus lupus ginjal menjadi penyebab kematian terbanyak dibandingkan kasus lupus lain.
Adapun DLE adalah lupus yang bersifat lokal, hanya terjadi di satu tempat. Biasanya DLE menyerang kulit, terutama di bagian wajah membentuk pola khas seperti kupu-kupu. Kulit mengalami ruam merah dan kasar. Karena pola ini, banyak gerakan penderita lupus di dunia menggunakan simbol kupu-kupu.
Lupus bisa dialami siapa saja. Namun, lupus lebih banyak dialami perempuan, terutama berusia produktif, 15-45 tahun. Sebanyak 90 persen penderita lupus adalah perempuan.
Menurut Dian Syarief, penderita lupus yang aktif menyosialisasikan lupus melalui yayasannya, Syamsi Dhuha Foundation, ahli memperkirakan hormon estrogen bisa memicu lupus. Faktor lain yang bisa mencetuskan lupus adalah sinar ultraviolet, obat-obatan terutama golongan sulfa, serta faktor keturunan. Lupus bersifat kambuhan. Biasanya menyerang kala tubuh kelelahan dan stres.
Dapat diobati
Meski berbahaya, kalau terdeteksi sejak dini, lupus bisa dikendalikan dengan obat-obatan. Menurut Zubairi, hanya sekitar 5-10 persen penderita yang meninggal akibat lupus tidak terdeteksi dengan baik.
Di Indonesia, menurut Zubairi, jumlah penderita lupus sekitar 10.400 orang. Namun, angka itu ibarat puncak gunung es, hanya kelihatan sebagian saja. Jumlah penderita lupus sesungguhnya bisa jauh lebih banyak. Diperkirakan lebih dari 1,5 juta penderita lupus di Indonesia.
Perkiraan itu berdasarkan data jumlah penderita lupus di Amerika yang mencapai 1,5 juta orang dari 300 juta penduduk Amerika. Jumlah penduduk Indonesia, hampir sama, yaitu 240 juta. Menurut banyak penelitian, angka kejadian lupus di Asia dua kali lebih tinggi dibandingkan Amerika dan Eropa.
Obat-obatan yang terbukti bermanfaat meredam gejala lupus adalah golongan kortikosteroid dan obat antimalaria. Menurut hasil penelitian dari 34 pusat penelitian di sembilan negara, obat antimalaria terbukti mengurangi kerusakan organ tubuh dan kematian. Obat lupus bekerja dengan cara menekan kekebalan tubuh.
”Sebagian besar penderita lupus dapat diobati dan bisa bekerja normal,” kata Zubairi.
Sayangnya, menurut Dian, banyak penderita tidak paham tentang lupus sehingga sembarangan meminum obat.
Penderita lupus tetap bisa produktif, walau sering mengalami kelelahan ekstrem. Kondisi itu bisa dipulihkan dengan istirahat total beberapa hari.
Kegiatan luar ruang diperbolehkan, tetapi penderita perlu menghindari paparan sinar matahari agar lupus tidak kambuh.
Olahraga yang direkomendasikan dokter untuk penderita lupus ringan dalam menjaga kebugaran adalah berenang dan senam tai chi. Jenis olahraga ini tidak terlalu membebani persendian karena biasanya penderita lupus banyak mengalami peradangan sendi.
sumber: kompas
14 Apr 2011
Lebah, Kunci Pencegahan Demensia
SEORANG ilmuwan asal Norwegia berhasil menemukan formula yang mampu mencegah proses penuaan pada otak lebah. Ini mungkin memiliki implikasi pada demensia."Seiring dengan pertambahan usia, kesehatan dan ketajaman mental akan menurun. Tetapi, temuan baru-baru ini mengindikasikan bahwa penuaan tidak harus identik dengan penurunan," kata Gro Amdam, pemimpin studi di Arizona State University.
Subjek penelitiannya adalah lebah, ia meneliti cara kerja sel-sel otak yang secara mengejutkan ternyata serupa dengan manusia. Jadi, ketika Amdam menemukan rahasia di balik otak lebah, pengetahuan itu mungkin juga berlaku untuk manusia.
Sebagai hewan percobaan, lebah menjalani tes laboratorium di mana lebah ditantang menggabungkan aroma dengan hadiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebah mampu belajar serta memahami hubungan langsung, sama seperti anak-anak belajar untuk berperilaku baik saat dijanjikan hadiah kue cokelat.
Sementara itu, lebah yang lebih tua kurang responsif daripada yang lebih muda. Lebah yang memiliki gejala mirip dengan demensia tidak memahami kaitan itu bahkan melupakannya.
"Masalah-masalah pada lebah mirip dengan apa yang kita lihat pada orang tua. Memori jangka pendek dan kemampuan belajar yang menurun," rangkumnya. Dalam pembagian kerja, biasanya lebah yang lebih tua mengumpulkan makanan di luar sarang, sedangkan lebah yang lebih muda cenderung di dalam larva. Ketika lebah yang lebih tua ditempatkan untuk melakukan tugas lebah muda, setengah dari mereka mengalami peningkatan dalam pembelajaran dan kemampuan memori.
"Menurut penelitian pada orang tua, terlihat bahwa stimulasi sosial dapat memiliki efek positif pada kesehatan dan fungsi otak, begitu juga dengan lebah," kata Amdam.
Protein pada otak lebah dimungkinkan memainkan peran kunci. Ketika peneliti menganalisis otak lebah yang meningkat dan membandingkannya dengan mereka stagnan. Perbedaan besar ditemukan pada delapan protein yang terlibat dalam perbaikan, pertumbuhan, dan pemeliharaan sel-sel otak. Beberapa dari protein ini juga ditemukan pada manusia.
sumber: mediaindonesia.com
Langganan:
Postingan (Atom)





