24 Agu 2011

Waspadai, Makanan Ini Mengandung Gula yang Banyak

Konsumsi gula yang terlalu berlebihan bisa berdampak buruk bagi tubuh seperti memicu diabetes. Tapi beberapa makanan diketahui memiliki kandungan gula yang cukup tinggi dan harus diwaspadai.

Konsumsi gula yang berlebihan bisa membuat seseorang jadi kecanduan. Jika hal ini terjadi akan menyebabkan beberapa kondisi medis akibat kelebihan gula seperti mengalami obesitas, kerusakan gigi, perubahan suasana hati serta penurunan sistem kekebalan tubuh.

Berikut ini beberapa makanan yang diketahui mengandung gula tinggi, seperti dikutip dari iVillage, Rabu (24/8/2011) yaitu:

1. Buah cranberry kering
Buah yang dikeringkan bisa membuat seseorang lebih mudah menyimpannya dan tetap mengandung antioksidan tinggi. Tapi sayangnya sulit mnemukan buah cranberry yang tidak diberi tambahan gula, karena itu kandungannya lebih tinggi.

2. Buah potongan
Buah potongan yang dijual seringkali dipikir lebih sehat, tapi banyak buah potongan yang sudah ditambah gula padahal buah itu sendiri sudah mengandung fruktosa. Untuk amannya belilah buah yang masih utuh dan belum dipotong-potong.

3. Yogurt dengan madu
Yogurt memang bagus karena mengandung protein dan probiotik yang bisa menyehatkan usus. Tapi jika yogurt ditambah madu, maka kandungan gulanya akan meningkat. Lebih baik memilih yogurt yang diberi tambahan buah.

4. Sup tomat kalengan
Orang sering menambahkan sedikit gula saat membuat sup tomat, padahal dalam setengah cangkir sup tomat kalengan sudah mengandung sekitar 12 gram gula karenanya tak perlu menambahkan gula lagi.

5. Teh hijau dingin
Jika membuat teh hijau tanpa gula mungkin kandungannya sedikit, tapi sebagian besar orang menambahkan gula dalam teh hijaunya sehingga kandungannya menjadi lebih tinggi.

6. Popcorn
Popcorn ternyata tidak hanya mengandung garam yang tinggi tapi juga gula, dalam satu cup popcorn mengandung 16 gram gula.

7. Jus jeruk
Jus buah memang kaya akan serat, vitamin serta antioksidan, tapi jus jeruk diketahui mengandung gula lebih tinggi dibanding dengan jus wortel terlebih jika ditambah gula saat membuatnya.

sumber : detikhealth

23 Agu 2011

Radiasi Ponsel Merusak Sel Sperma

Suara dering telepon di saku celana Anda bisa menjadi alarm bahaya bagi sel sperma. Demikian menurut hasil studi yang menemukan bahaya radiasi ponsel pada kualitas sperma.

Beberapa riset telah menunjukkan pria pengguna ponsel memiliki jumlah sperma lebih sedikit, lebih lambat bergerak dan rusak, dibandingkan dengan pria yang tidak memakai ponsel. Namun sebenarnya yang menjadi masalah adalah tempat penyimpanan ponselnya.

Sekitar dua bulan lalu para peneliti dari Afrika Selatan menemukan pria yang membawa ponselnya di pinggul atau di kantong celana bagian depan memiliki sperma yang lebih lambat dalam berenang dan juga lebih sedikit konsentrasinya. Keduanya sangat berpengaruh pada kesuburan seorang pria.
Studi teranyar mengenai efek radiasi dilakukan peneliti dari Turki dengan subyek sel sperma manusia di dalam cawan patri yang diberi paparan radiasi ponsel selama satu jam. Paparan tersebut menyebabkan sperma menjadi abnormal, sehingga kesulitan mencapai sel telur.

"Seharusnya hasil riset ini diwaspadai oleh pria yang masih berada di usia reproduksi dan terbiasa menaruh ponselnya di saku celana," kata Joel Moskowitz, Ph.D, direktur Universitas California, Berkeley Center for Familiy and Community Health.

Penelitian lain yang dilakukan pada tikus percobaan juga memberi hasil mengkhawatirkan. Para peneliti meletakkan tikus-tikus dalam kandang khusus dengan ponsel ditaruh 2 inci dari dasar kandang.

Setelah berdekatan dengan ponsel 6 jam setiap hari selama 18 minggu, para peneliti menemukan penurunan prosentasi sperma hidup 25 persen, dari sebelumnya 70 persen. Selain itu sel sperma tikus-tikus itu juga saling menempel sehingga tidak bisa membuahi sel telur.
Moskowitz mengatakan hasil penelitian ini belum mencapai kesimpulan karena mekanisme radiasi pada perubahan sel sperma belum diketahui.

Salah satu teori menyebutkan ponsel akan memanas ketika digunakan sehingga akan meningkatkan suhu di sekitar organ genital pria ketika disimpan dalam saku celana.
Hipotesis lain menyatakan hal itu berkaitan dengan frekuensi elektromagnetik yang dipancarkan ponsel. Baik sel tubuh atau ponsel memancarkan frekuensi elektromagnetik dan radiasi frekuensi yang tinggi akan diserap tubuh hingga ke jaringan sehingga meningkatkan gerakan molekuler di dalam sel tubuh.

sumber : kompas

22 Agu 2011

Pengaruh Air pada 7 Bagian Tubuh

Air adalah komponen utama dalam tubuh manusia, bahkan sekitar 55 persen berat tubuh kita adalah air. Tanpa air makhluk hidup tidak mungkin tumbuh dan berkembang karena air sangat vital untuk reaksi kimia tubuh.

Air harus dikonsumsi setiap hari karena tubuh tidak bisa membuatnya. Untuk mengetahui peran air dalam tubuh kita, simak apa saja pengaruh air pada 7 bagian tubuh berikut ini:

1. Otak

Tubuh yang terhidrasi dengan baik akan membuat daya ingat lebih tajam, mood stabil dan motivasi lebih baik. Jika kecukupan air dalam tubuh baik, kemampuan kita dalam memecahkan masalah juga akan meningkat. Para ilmuwan menyebutkan kekurangan air akan menyebabkan aliran oksigen ke area otak berkurang sehingga sel-sel saraf menyusut sementara. Tak heran jika orang yang kehausan biasanya sulit berkonsentrasi.

2. Mulut

Air akan menjaga tenggorokan dan bibir lebih basah dan menjaga mulut kekeringan. Kondisi mulut yang kering bisa memicu bau mulut dan rasa yang tidak enak, bahkan gigi berlubang.

3. Jantung

Dehidrasi akan menyebabkan penurunan volume darah sehingga jantung akan bekerja lebih keras dalam memompa darah agar sel-sel tidak kekurangan oksigen. Akibatnya aktivitas fisik ringan seperti naik tangga atau berlari akan terasa lebih melelahkan.

4. Sirkulasi darah

Tubuh mengeluarkan panas dengan cara melebarkan pembuluh darah yang dekat dengan permukaan kulit sehingga aliran darah lebih cepat dan panas lebih banyak yang dikeluarkan. Bila kita kekurangan cairan, dibutuhkan temperatur lingkungan yang lebih tinggi agar pembuluh darah melebar sehingga kita akan tetap kepanasan.

5. Otot

Bila kecukupan cairan terpenuhi, air di dalam dan luar sel yang berfungsi mengkontraksi otot menyediakan nutrisi yang cukup dan proses pembuangan berlangsung efisien sehingga performa tubuh akan baik. Air juga penting untuk melumaskan sendi. Namun kram otot tidak berkaitan dengan dehidrasi melainkan karena kelelahan otot.

6. Kulit

Jika seseorang menderita dehidrasi berat, kulit menjadi kurang elastis. Kondisi ini berbeda dengan kulit kering, yang biasanya disebabkan karena zat kimia dalam sabun, air panas atau terpapar udara kering. Sayangnya, minum cukup air tidak akan mencegah keriput.

7. Ginjal

Ginjal membutuhkan cairan untuk menyaring "sampah" dari peredaran darah dan membuangnya melalui urin. Kecukupan cairan juga akan membantu mencegah infeksi saluran kemih dan batu ginjal. Dehidrasi berat akan menyebabkan ginjal berhenti berfungsi, sehingga toksin atau racun menumpuk di tubuh.

sumber: kompas

16 Agu 2011

Olahraga 15 Menit Perpanjang Usia 3 Tahun

Satu lagi ditemukan manfaat dari olah raga bagi kesehatan. Sebuah riset di Taiwan baru-baru ini mengklaim, dengan berolahraga selama 15 menit dalam setiap hari ternyata dapat memperpanjang hidup Anda 3 (tiga) tahun menjadi lebih lama.

Menurut peneliti, selama ini kebanyakan orang berpatokan pada pedoman yang mengatakan olahraga harus dilakukan 30 menit dalam sehari dan lima hari dalam seminggu. Padahal, dengan menerapkan dosis latihan yang lebih rendah, akan lebih memotivasi seseorang untuk mau berolahraga.

Chi Pang Wen, pemimpin studi dari Lembaga Penelitian Kesehatan Nasional Taiwan mengatakan, mendedikasikan 15 menit sehari secara rutin untuk berolahraga seperti jalan cepat akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.

"Ini untuk pria, wanita, perokok muda dan tua, orang sehat dan tidak sehat. Nasihat ini dapat diberikan oleh dokter kepada pasien tanpa harus melihat apakah dia wanita atau pria," katanya.

Wen dan rekan-rekan, yang menerbitkan temuannya dalam Medical Journal The Lancet, melibatkan 416.000 relawan yang diamati selama 13 tahun. Selama studi, catatan kesehatan dan laporan tingkat aktivitas fisik para relawan dianalisis.

Setelah memperhitungkan perbedaan dalam hal usia, berat badan, jenis kelamin dan berbagai indikator kesehatan yang berhubungan, peneliti menemukan bahwa dengan hanya 15 menit latihan sehari dapat meningkatkan harapan hidup seseorang tiga tahun lebih lama dibandingkan dengan mereka yang tidak aktif berlolahraga.

Olahraga rutin setiap hari juga terkait dengan risiko kejadian lebih rendah terkena kanker, dan mengurangi risiko kematian terkait kanker. "Cepat atau lambat, Anda akan mati. Tapi dibandingkan dengan kelompok aktif (berolahraga), kelompok yang jarang berolahraga punya risiko kematian akibat kanker 10 persen lebih tinggi," kata Wen.

Wen mengatakan, temuannya konsisten dengan penelitian serupa di masa lalu yang melibatkan relawan dari Kaukasia. Namun, ia mengklaim timnya sebagai penemu pertama yang dapat menunjukkan adanya hubungan manfaat berolahraga dengan waktu yang minim sekalipun.

"Tidak ada penelitian lain yang dapat menyimpulkan. Kita adalah orang pertama yang mengatakan bahwa olahraga selama 15 menit sudah cukup bermanfaat," katanya.

"Kami berharap penelitian ini akan membuatnya orang yang malas berolahraga menjadi lebih tertarik untuk berolahraga. Mereka dapat mengalokasikan 15 menit sehari, bukan 30 menit, yang tentu lebih sulit," pungkasnya.

sumber: kompas

12 Agu 2011

Bahaya Kebanyakan Duduk bagi Kesehatan

Hasil penelitian menunjukkan, gaya hidup kurang aktif atau sedentari dapat meningkatkan risiko mengidap penyakit kronis meskipun Anda telah meluangkan waktu untuk berolahraga.

"Jika orang-orang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, meski telah berolahraga secara rutin, mereka tetap berisiko tinggi terkena penyakit kronis. Jika mereka mau menambah gerakan dalam rutinitasnya sepanjang hari, mereka akan merasa lebih baik dan terhindar dari masalah kesehatan," ujar John Thyfault, asisten profesor nutrisi dan fisiologi dari Universitas Missouri.

Dalam penelitian terbaru, Thyfault dan timnya menemukan bahwa mereka yang gaya hidupnya berubah dari level aktivitas tinggi (lebih dari 10.000 langkah setiap hari) menjadi tidak aktif (kurang dari 5.000 langkah per hari) berisiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe 2.

Menurut Thyfault, aktivitas yang menuntut seseorang jarang duduk seperti tak terlihat pengaruhnya terhadap seseorang. Tetapi, dalam jangka panjang hal itu dapat mencegah kenaikan berat badan.

Dalam sebuah artikel terbaru yang dipublikasikan Journal of Applied Physiology, para peneliti berpendapat, gaya hidup kurang aktif merupakan penyebab utama penyakit kronis, seperti diabetes, obesitas, juga penyakit perlemakan hati. Berolahraga secara teratur pun mungkin belum cukup bagi mereka yang banyak duduk untuk menekan risiko penyakit ini.

Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk dapat memicu risiko kematian.

"Setiap orang harus mencoba mengambil paling tidak 10.000 langkah setiap hari. Tak perlu dilakukan sekaligus, tapi melakukan 500 hingga 1.000 langkah setiap beberapa jam sudah terbilang bagus," ujar Scott Rector, asisten profesor nutrisi dan olahraga fisiologi dari Universitas Missouri.

Perubahan kecil dapat meningkatkan jumlah langkah orang-orang dalam kegiatan rutin mereka. "Cobalah untuk menggunakan tangga dibanding dengan elevator, berjalan menuju meja teman kantor dibandingkan dengan memanggil mereka, atau meluangkan sedikit waktu untuk Anda sedikit berjalan-jalan sepanjang hari," tambahnya.

sumber: kompas

2 Agu 2011

Minim Gerak Sebabkan Kematian

foto: Chris Staniforth

Kebiasaan tak banyak bergerak dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan pembekuan darah, yang kemudian berujung kematian. Kejadian ini bisa dialami antara lain oleh orang yang terlalu lama duduk di depan komputer tanpa melakukan kegiatan lain.

Kasus kematian di depan komputer yang paling banyak terjadi adalah ketika seseorang bermain game dalam jangka waktu lama secara tanpa henti, seperti yang baru-baru ini terjadi pada Chris Stanifort. Remaja berusia 20 tahun tersebut diketahui meninggal setelah duduk di depan komputer selama 12 jam tanpa henti. Hasil otopsi menyebutkan Stanifort meninggal akibat pembekuan darah--dalam bahasa medis disebut "deep vein thrombosis (DVT)".

DVT adalah kondisi munculnya gumpalan darah di pembuluh, biasanya terjadi di urat nadi di kaki, tulang panggul, atau lengan. Penderita biasanya merasa kesakitan, bengkak, tubuhnya memerah dan panas. Kondisi akan makin serius jika gumpalan darah mengganggu aliran darah dan menyebabkan pemblokiran di paru-paru atau disebut "pulmonary embolism".

Stanifort bukan satu-satunya korban DVT akibat kebiasaan bermain game. Sebelumnya kematian di depan komputer pernah ditemui di warung-warung internet di China, tempat banyak remaja yang menghabiskan waktu sampai berhari-hari hanya untuk bermain. Pemerintah China bahkan sampai membuat pusat-pusat rehabilitasi kecanduan game sebagai upaya mengatasi situasi yang terjadi.

DVT menyerang nyaris tanpa tanda-tanda. Untuk menghindarinya, pengguna komputer sebaiknya menyelingi kegiatannya dengan melakukan gerakan fisik ringan seperti menggerakkan kaki, tangan, atau berjalan kaki sewaktu-waktu.

sumber: national geographic indonesia

1 Agu 2011

Multitasking Bisa Berakibat Buruk Bagi Otak

Kebanyakan orang berpikir gadget tercanggih bisa membuatnya lebih gesit, fokus dan efisien. Tapi banyak peneliti percaya bahwa otak manusia tidak bisa benar-benar melakukan dua atau lebih tugas secara bersamaan.

Peneliti mengungkapkan bahwa otak tidak berjalan baik ketika seseorang mengerjakan tugas-tugas ganda yang kompleks, seperti mengemudi sambil berbicara di ponsel.

"Salah satu kegiatan harus mengalah. Entah percakapan telepon seluler atau mengemudi Anda yang akan terganggu," ujar David E. Meyer, PhD, direktur Otak, Kognisi, dan Laboratorium Aksi di Universitas Michigan, di Ann Arbor, seperti dikutip dari Health.com Senin (1/8/2011).

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan satu dekade lalu, Meyer dan koleganya menemukan bahwa orang menjadi kurang efisien ketika melakukan multitasking. Hal ini disebabkan butuh lebih banyak waktu untuk menyelesaikan satu tugas, terutama jika tugasnya kompleks.

Bagaimana multitasking mempengaruhi memori dan perhatian?

"Bentuk paling sederhana dari multitasking bisa menyebabkan gangguan pengolahan informasi atau kerja memori," kata Adam Gazzaley, MD, seorang profesor neurologi, fisiologi, dan psikiatri di University of California, San Francisco.

Peneliti dari Stanford University melakukan studi yang meminta siswa untuk mengambil kuesioner online tentang penggunaan media. Dari kelompok tersebut, para peneliti mengidentifikasi berat dan ringannya "multitasker media" kemudian membandingkan kerja partisipan terhadap tiga tes kognitif.

Studi ini menemukan bahwa multitasker media yang berat mengalami lebih banyak kesulitan dalam menyaring informasi yang tidak relevan dari lingkungan. Dengan kata lain, partisipan ini lebih rentan terhadap gangguan daripada teman-temannya. Serta ia menjadi kurang mampu untuk fokus dan memiliki kesulitan dalam beralih tugas.

Multitasking umumnya bisa menimbulkan masalah pada usia berapa pun, tapi kondisi ini akan lebih mungkin mengganggu memori pada orang yang sudah tua.

Dalam dua penelitian terbaru, Dr Gazzaley dan rekan memberikan tes untuk kelompok dewasa muda dan tua. Partisipan diberikan gambar dan diminta untuk mengingatnya 15 detik kemudian setelah diinterupsi dengan tugas kognitif yang lain.

"Kami menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua tidak bisa mengingat kembali dengan mudah. Itulah sebabnya interupsi yang diberikan memiliki dampak lebih besar pada memori kerja mereka untuk mengolah informasi dalam jangka waktu yang singkat," kata Dr Gazzaley.

Apakah remaja melakukan multitasking lebih baik?

Dr. Jay Giedd, MD, kepala unit pencitraan otak di National Institute of Mental Health's Child Psychiatry Branch telah melakukan lebih dari 7.000 kali MRI terhadap 3.000 lebih anak selama dua dekade terakhir untuk lebih memahami perkembangan otak pada anak-anak dan remaja.

"Sejauh ini, anak-anak dalam penelitian kami yang melakukan banyak multitasking mendapatkan nilai cukup bagus, mereka kreatif dan energik. Tapi disisi lain mereka mungkin lebih tertekan," ujar Dr Giedd.

Dr. Giedd mencatat bahwa anak-anak tersebut sering kurang tidur sehingga memicu terjadinya stres. Anak-anak ini sering tergoda untuk tetap bangun dan melakukan lebih banyak hal. Karena itu pada dasarnya multitasking tidaklah efisien.

"Dengan rantai penalaran yang cukup solid, dapat disimpulkan bahwa multitasking yang intens bisa dilakukan secara teratur saat Anda benar-benar peduli tentang pekerjaan, tapi bisa gagal karena keterbatasan pengolahan informasi yang akhirnya mengarah pada kondisi stres kronis," ungkap Meyer

sumber: detikhealth